Ada Gunungan Onde-onde Di acara Kenduri Maulid kota Mojokerto

Ada Gunungan Onde-onde Di acara Kenduri Maulid kota Mojokerto

416
0
BAGIKAN

KABAR MOJOKERTO – Gunungan onde-onde yang setinggi tiga meter dan kenduri massal 5000 layah berada di tengah ribuan masyarakat berpakaian batik warna oranye yang berkumpul di lapangan Raden Wijaya, Kecamatan Surodinawan, Kota Mojokerto mewarnai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Pemkot Mojokerto.

Ribuan warga masyarakat Kota Mojokerto dengan beragam macam status dan profesi ikut larut dalam ritual dan tradisi muludan tersebut, tradisi khas umat Islam Nusantara dalam acara memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Walikota Mojokerto, Mas’ud Yunus, sebagai penggagas dan motor kenduri massal dengan media layah atau periuk dari bahan tanah liat tersebut berada di tengah massa bersama Menteri Sosial Ibu Khofifah Indar Parawangsa dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda).

Kenduri massal dengan ribuan layah yang berisi nasi kuning atau nasi gurih tersebut adalah yang dilakukan keduakalinya setelah pada tahun lalu digelar helatan serupa di tempat yang sama. Keteladan Nabi Muhammad SAW yang mengedepankan tentang kesederhaaan dan sifat gotong royong serta kesetiakawanan sosial adalah tema besar yang diusung dalam acara kenduri massal yang sudah ditetapkan sebagai agenda acara tahunan pemerintahan yang dipimpin birokrat berlatarbelakang ulama itu. Acara kenduri massal ribuan layah tersebut juga dipancang untuk menarik para wisatawan, seperti halnya tradisi Grebeg Mulud di Kasultanan Surakarta dan Kasunanan Jogjakarta. Jika gunungan dalam grebeg mulud di dua bekas kerajaan Islam di Jawa Tengah itu berisi aneka macam kudapan, Kota Mojokerto menyajikannya gunungan berisi ribuan kue onde-onde, kue yang khas Kota Mojokerto. Gunungan kue goreng berbentuk bulat bundar diperebutkan oleh semua orang selepas diarak keliling acara. Namun, penganan khas kota Mojokerto itu semata hanya diperebutkan. Tidak ada nuansa ngalap berkah seperti yang halnya gunungan grebeg mulud. Justru makan bareng nasi kuning atau nasi gurih diatas layah tersebut itulah yang paling ditonjolkan dan sekaligus menjadi pembeda dengan daerah lain kala menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam.

Baca Juga :  Dua Pemudik Tewas di Mojokerto Selama Arus Mudik dan Balik Lebaran 2016

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR