BerandaKOLOMWARKOP KDebu Kotor di Kantor PBNU

Debu Kotor di Kantor PBNU

341
0
BAGIKAN
Ilustrasi Kantor PBNU

Sebenarnya saya bosan menulis soal ribut-ribut politik. Baru saja buka komputer, guru saya nongol.

”Ciyee… ciyee… yang lagi capek urusan nasional…,” ujarnya, menggoda. Meski saya rindu dengan dia, tapi jujur saja saya malas meladeninya.

Terkadang kadar rindu saya tidak sebanding dengan teror mental yang ia berikan. Terlebih lagi ini masa-masa saya menikmati libur sejenak setelah deadline. Sebenarnya sore ini saya ingin bersantai sambil menulis tentang persoalan yang woles sambil ditemani secangkir kopi, udut dan camilan. Dan kedatangan guru saya memang benar-benar merusak suasana santai saya. Semua bahan yang sudah saya persiapkan di kepala saya mendadak buyar, tidak berbekas.

”NU apakabar?”

”Ya, ndak tahu. Saya bukan orang PBNU. Tidak punya potongan menjadi ketua di sana. Ngapain saya ikut ribut,” jawab saya ketus. ”Kok tiba-tiba tanya soal NU?” kerjar saya.

”Itu wajar saja, sih. Kamu lahir di keluarga NU, tapi belajar ngaji di tempat Muhammadiyah. Itu membuat kamu tidak punya identitas dan sikap hidup yang jelas.” Kata guru saya. Wajahnya yang lucu nampak menimang-nimang sesuatu yang entah apa. Kalau dilihat dari wajahnya, tentu saja ia hendak mengomel panjang malam ini dan berakhir dia marah-marah karena saya tinggal tidur.

”Memang salah kalau guru ngaji saya yang orang Muhammadiyah dan keluarga saya NU? Tapi jujur saja, saya ini masih bingung saya ini masuk ke golongan mana? Guru punya penjelasan mengenai apa yang saya alami?” tanya saya.

”Tidak salah, itu sah saja karena Islam itu Islam. Tapi di sekala lebih kecil perbedaan antara NU, Muhammadiyah dan terlebih lagi HTI, itu hanya kembang pelengkap dimana Allah memberi ruang agar manusia berdiskusi. Silahkan saja mau pilih yang mana.”

Baca Juga :  Sebaiknya Koko dan Mas Habib Adu Tinju di Tempat Sepi

”Hubungannya dengan identitas?”

”Coba kamu becermin dan mengingat-ingat lagi masa lalumu. Kompleksitas pengalaman hidupmu akan membentuk identitas NU dalam dirimu. Bila itensitas masuknya nilai-nilai NU dalam dirimu tinggi hingga menjadi belive, saat itu kamu mampu mengidentifikasi diri sebagai NU; kamu bisa menilai kadar NU dalam dirimu.”

”Yang gagal dipahami kelompok-kelompok yang ribut itu adalah memahami identitas. Mereka belum paham bila ada perbedaan mendasar antara NU dan PBNU. Kalau NU itu bisa dimana saja; siapa saja. Tapi kalau untuk jadi PBNU, nanti dulu. Ada jurang pemisah yang begitu dalam. Seseorang boleh saja jadi NU dengan serius, radikal dan bahkan sampai ngelontok. Begitu keberuntungan hidup mengantarmu sampai ke struktural PBNU, mungkin kadar NU dalam darahmu bisa berkurang drastis dan akhirnya kamu anemia. Sedangkan pintu masuk kantor PBNU adalah penghubung antara alam manusia dengan alam jin, demit, genderuwo dan bahkan iblis. Sekali memasuki pintu itu dan kebetulan kamu orang biasa, paling tidak dirimu harus keluar lima menit sekali dan mengambil wudhu untuk membersihkan partikel ’debu’ yang membuatmu lupa urutan Al Fatihah. Dan sholat adalah pengingat bila kamu lebih butuh ’jalan lurus’ di dalam kantor PBNU ketimbang kamu hanya jadi seorang Banser atau anggota ranting biasa.”

Saya hanya ngowoh melihat guru saya omong.

”Memangnya dosa, ya, berada di dalam struktural PBNU?”

”Tentu saja tidak! Itulah mengapa PBNU butuh lebih dari sekedar kader-kader brilian yang punya kecakapan intelektual dan sakti. PBNU butuh lebih dari seorang tukang jagal bahkan ahli strategi politik. PBNU butuh pawang yang punya kewaskitaan, ketahanan ekstra melawan partikel debu yang menyerang kepala dan yang terpenting punya kemampuan menambah kadar NU dalam dirinya. Karena kemampuan menjadi pawang inilah yang mampu membuat NU bisa selamat dari badai ketidakjelasan dan ribut-ribut dana satu setengah triliun dari pemerintah, meski sudah ada klarfikasi.

Baca Juga :  Dukun Tiban Nasional

PBNU adalah sebaik-baik tempat bertapa. Kader NU yang kebetulan berada di PBNU bisa lulus tanpa turun kadar kemanusiaan dan keimanannya, tentu saja derajadnya lebih tinggi dari sekedar kiyai di pondok pesantren atau di kampung. Karena kadar debu pengotor kepala tidak sebanyak di kantor PBNU. Mampu rajin sholat tiap hari di pondok itu biasa, karena memang di sana tempat sholat, tapi mampu rajin sholat di kantor PBNU, yang jadi pintu penghubung ke markas genderuwo, itu baru luar biasa. Apakah ini berarti PBNU itu seperti genangan air selokan yang kotor? Tentu saja tidak! Pada hakikatnya tidak ada tempat yang kotor. Bahkan pelacuran itu bukan tempat yang kotor. Perilaku manusialah yang membuat tempat itu dianggap kotor. Keserakahan manusialah yang melahirkan gelombang energi negatif menguat hingga pada akhirnya bisa jadi penghubung ke alam lain. Untuk itu PBNU butuh seorang pawang yang kehadirannya mampu memberikan perimbangan energi positif yang sama besar dengan energi negatif sehingga terjadi ledakan cahaya. Terserah bagaimana orang memaknai peristiwa ledakan cahaya itu di dalam kasus yang lebih kongkret, seperti peristiwa Gus Dur naik jadi Presiden RI, atau yang lainnya, itu terserah yang menafsirkan.”

Setelah menyalakan dua batang rokok dan menghisapnya sekaligus, guru saya melanjutkan, ”Konon organisasi adalah salah satu perangkap dan tipu daya setan. Benar atau tidak tentu saja Mbah Hasyim dan Mbah Kholil punya perhitungan yang jelas. Soal PBNU itu sudah benar-benar jadi jaring setan untuk melunturkan iman seseorang itu silahkan dibicarakan diantara para punggawa PBNU. Apakah adanya PBNU lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, tentu saja punggawa PBNU bisa menakar, toh mereka sudah sunat dan baligh. Soal keputusan untuk merapat ke pemerintah itu juga sah-sah saja. Kalau pun pada akhirnya di tengah perjalanan mendukung pemerintah pandangan mata mereka jadi mbliyur dengan kebijakan sontoloyo, ya, tentu mereka sudah punya banyak stok koyo cabe untuk menahan azab dunia dari Allah. Jadi silahkan saja mblunat,” katanya.

Baca Juga :  PBNU Butuh Mondok, HTI Butuh Liburan

”Mungkin Gatholoco NU adalah PBNU. Sehingga saya berandai-andai apa mungkin pengurus PBNU memberikan ruang bagi santri-santri pilihan dari desa-desa untuk masuk ke PBNU untuk sekedar menguji keimanan, tapi itu tidak mungkin. Saya tahu persis bila orang-orang di dalam struktural PBNU teramat sayang kepada kader-kader muda, sehingga enggan memberi ruang. Atau mungkin juga pimpinan PBNU tahu bila kewaskitaan santri-santri desa belum siap dimasukkan kawah candradimuka kantor PBNU,” lanjut si guru gendeng.

”Kalau soal HTI?”

Guru saya terdiam dengan pertanyaan saya. Matanya meneleng melihat ke jalanan ibu kota yang mulai ramai. ”Bagaimana, guru?” tanya saya sekali lagi.

”Kalau soal HTI, saya pikir orang NU belum benar-benar khatam dalam urusan ’mondok’. Ya, jadinya seperti itu….”

Tiba-tiba guru saya lenyap.

 

Penulis : Citra D. Vresti Trisna

               Jakarta, Jumat Wage, Juli 2017

 

 

Comments

comments