Dukun Tiban Nasional

Dukun Tiban Nasional

824
0
BAGIKAN
Ilustrasi Dukun Tiban

Bagaimana rasanya dianugrahi presiden ajaib? Tidak terasa sudah dua tahun lamanya kita dipimpin oleh sosok, yang kata orang (bukan saya, lo, yang bilang), lebih mirip dukun tiban ketimbang presiden.

Meski, di sisi lain, saya bersyukur, karena di tengah keruwetan hidup yang maha dahsyat, masyarakat Indonesia masih dianugrahi hiburan oleh Allah agar bisa sedikit tersenyum, ngakak, dan nyengir kuda. Syukur-syukur hiburan ini bisa jadi jamu anti stroke. Bagaimana tidak, lha wong tiap hari disuguhi dagelan politik yang Insyaallah bikin seluruh jagad kecil dan jagad besar tertawa terbahak-bahak sampai nangis kok tidak bersyukur. Kalau saya bersyukur sekali, meski terkadang agak igit-igit dan gemes-gemes gitu.

Kalau dagelan politik itu dilontarkan di panggung Srimulat itu masih lumrah. Tapi, dukun tiban satu ini justru melucu di panggung politik beneran. Justru di sinilah lucu dan menariknya dukun tiban. Buktinya, banyak kelompok-kelompok yang masih setia jadi pembela garis keras.

Seorang presiden wajib berdaulat atas keputusan-keputusan yang diambil karena menyangkut kemaslahatan rakyat yang dipimpin. Apalagi seorang presiden juga salah satu pihak yang berkewajiban nyunggi wakul rakyatnya. Tapi kewajiban berdaulat dan nyunggi wakul adalah tugas seorang presiden, bukan dukun tiban. Lantas kalau ada dukun tiban munggah bale semestinya kita yang waras ini tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi. Jadi kalau dukun tiban yang tidak berdaulat dan disetir kanan kiri saat mengambil kebijakan itu sah-sah saja. Atau misalnya ada dukun tiban yang gembelengan saat nyunggi wakul rakyat, ya, ndak usah diambil pusing. Toh, mbambungan seperti kita ini bisa apa.

Bagi dukun tiban, urusan kesalehan kebijakan yang diambil itu urusan nomor 289. Tapi, untuk sekelas dukun, saya mengakui bila dia memiliki kreatifitas yang tinggi dalam mengemas kebijakan pemerintah. Dia tahu betul, bila di zaman epok-epok ini, kemasan adalah nomor wahid. Yang penting kebijakan yang dikeluarkan nampak teoritis, pro rakyat, dan seakan-akan untuk kebaikan jangka pendek dan jangka panjang. Bagi aktor yang mengendalikan chip di kepala dukun ini, asal bisa enak, kepentingannya terakomodasi dan terus untung maka ok ok saja.

Baca Juga :  Tol Mojokerto - Jombang Seksi 3 Dibuka Gratis Untuk Jalur Mudik

Demi kebaikan bersama, saya menyarankan agar masyarakat lebih sublim-sabar-sumringah menghadapi sepakterjang dukun tiban yang terkadang nampak mbalelo ini. Karena, dukun tiban yang sekarang memerintah berbeda kelas dengan dukun tiban kelas kacang, seperti Ponari, Lia Eden, dll. Bukti kalibernya sebagai seorang presiden yang juga dukun ini bisa dilihat dari banyaknya pihak yang mendukung. Dari kelas ekonom, politisi, akademisi, aktivis, media, seniman, para mbambung elite, semua kompak mendukung. Bahkan, di pemilu 2014 silam, kesan yang berhasil dibentuk adalah: tidak pilih dukun tiban berarti tidak intelek dan merestui Orba jilid dua kembali terjadi. Meski seandainya kalau dukun tiban gagal menang, ya, calon satunya belum tentu bagus juga. Kalau pada akhirnya, mereka sadar telah salah pilih barulah mereka pulang ke puaknya masing-masing.

Keajaiban lain dari dukun tiban yang patut diacungi jempol adalah dalam hal merangkul pihak oposisi. Kalau saya analisa, mudahnya pihak oposisi tertarik di lingkaran koalisi lebih disebabkan faktor identitas, dimana pada dasarnya baik oposisi atau pun koalisi tak hanya sekumpulan rai gedheg yang dibesarkan di kelompok atau istitusi megah tapi minim harga diri.

Meski demikian, ada juga kelompok atau individu yang kurang sreg dengan dukun tiban ini. Biasanya pertanyaan mereka kepada saya tidak jauh dari hal ini: Mengapa kita hanya mendapat ”penguasa” bukan ”pemimpin”? Gatholoco penguji keimanan macam dukun tiban ini lahir dari realitas macam apa?

Cara mereka mengekspresikan protes pun bermacam-macam. Ada yang menyampaikan pertanyaan itu dengan cengengesan; guyon sambil menahan tawa geli, ada juga yang ekspresinya datar dan ada juga yang bertanya sambil marah-marah. Ketika pertanyaan itu dialamatkan ke saya, saya akan menjawab sesuai dengan ekspresi mereka. Untuk jenis orang pertama, akan saya tanggapi dengan jawaban asal bunyi: ”Nanti juga modyar”. Tipe orang kedua, saya akan jawab dengan jawaban klise: ”Sabar, ya, bro!” Kalau untuk jenis orang ketiga ini, saya tidak pernah jawab pertanyaan mereka, malah justru saya balik tanya: ”Kemarin ikut milih juga, ndak?”

Baca Juga :  ”Tuhan Baru” Demokrasi

”Ya, milih. Ini kan bagian dari kepedulian kita bersama sebagai warga negara yang baik. Kalau tidak memilih, itu apatis namanya,” jawabnya. ”Kalau sekarang yang saya pilih tidak lebih dari badut, itu lain soal dan memang harus dikritik sekeras-kerasnya. Ini bagian dari tanggungjawab atas pilihan dan kepedulian saya pada negara ini,” tambahnya.

”Kamu ini benar-benar memilih atau dipilihkan? Memangnya dua orang peserta pemilu itu sebenar-benarnya pilihan rakyat? Di Indonesia, tidak sulit untuk mencari figur-figur pemimpin yang memiliki kapasitas memimpin. Tapi, mengapa harus dua calon itu yang diajukan? Kalau begitu caranya, bukan memilih namanya, tapi dipilihkan. Dan kalau sampai ikut nyoblos, itu kamu yang dungu karena mau saja dibohongi.”

Salah satu tindakan dungu adalah mempercayakan nasib kepada partai, terutama pada calon yang diusung dari partai. Sampai kapan pun kalau kelakuan partai masih seperti sekarang, ya, jangan harap akan lahir calon pemimpin masa depan. Sistem dan implementasi demokrasi saat ini tidak mencetak pemimpin, melainkan penguasa. Bahkan pola pikir masyarakat pun juga tidak dididik untuk memiliki kesadaran mencari pemimpin, tapi mencari penguasa. Ibaratnya seperti memasrahkan tugas menjaga kandang ayam ke garangan.

Kalau suatu hari kita sadar ayam-ayam kita habis disikat, maka yang salah bukan si garangan sepenuhnya, karena kita punya andil salah paling besar. Meski dari tahun ke tahun peternakan terus merugi, tapi ternyata kita tak kunjung berubah dan tetap mempercayakan peternakan ayam kita ke garangan lainnya. Apa, ya, ndak bosan tiap lima tahun sekali kita dipaksa menerima kenyataan bila presiden yang kita pilih tak lebih dari dukun tiban bermental garangan.

Kalau kemarin, kita dapat hadiah dukun tiban gembeng, kalau sekarang dukun tiban doyan nggaya, lalu besok apa lagi?

  • Citra D. Vresti Trisna
  • Jkt 48, 2 Oktober 2016
Baca Juga :  Anak Band Ngehitz VS Mesin Sampink

 

 

Incoming search terms:

  • dukun bakar dupa

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR