Generasi Lele dan Ayam Horn Mojokerto

Generasi Lele dan Ayam Horn Mojokerto

719
0
BAGIKAN

Konon, salah satu jenis unggas yang enak dimakan adalah ayam hutan. Unggas jenis ini sejak kecil hidup di alam liar. Makan-minum dari alam. Bernapas di udara terbuka. Tapi, tentu saja hampir tidak ada resto cepat saji yang menjadikan ayam hutan sebagai menu utama untuk ayam goreng. Karena, mencari ayam hutan lebih sulit ketimbang ayam biasa, sehingga ayam horn jadi pilihan tepat untuk bahan baku. Selain itu, ayam horn mudah didapat.

Meski soal kelezatan daging ayam hutan adalah sesuatu yang subjektif, tapi bagi saya, yang membuat daging ayam hutan itu enak lantaran menjalani hidup sebagaimana “kodratnya”. Ayam hutan tumbuh “wajar” dan tidak dikerdilkan daya hidupnya oleh kerangkeng, suntikan vitamin dan juga pakan produk pabrik. Alhasil, ayam hutan nampak segar, tidak pucat, berdaging liat dan tidak tinggi lemak sebagaimana ayam horn.

Untuk mendapat kelezatan yang maksimal, butuh seorang juru masak yang ahli. Ia harus seorang yang memiliki kepekaan dan rasa-pirasa yang tinggi. Sedangkan untuk tukang masak di resto atau Kentucky Fried Nyambek (KFN) haruslah ”dikerdilkan” dengan SOP yang ketat. Tidak penting ia adalah seorang dargombes yang tak peka; buta selera.

Beternak—tak peduli dalam prosesnya bakal mengkerdilkan daya hidup hewan atau tidak—dalam jumlah besar untuk bahan baku produksi adalah keniscayaan dalam rantai bisnis pangan. Begitu juga dengan buruh yang ada di bisnis makanan, mereka perlu ”dipangkas kepalanya; diseragamkan” dengan kerangkeng sekolah, pelatihan dan kursus serta dididik untuk taat pada SOP. Semakin banyak standar yang ditetapkan untuk memilih buruh semakin baik. Tinggi-rendah gaji bukanlah yang utama. Yang terpenting mereka dapat menjadi robot-robot kerdil yang telah hilang rasa-pirasa dan sejarahnya. Dalam dunia bisnis, bahan baku, tenaga kerja dan proses produksi adalah ”tuhan baru” dalam industri; dalam prinsip rantai pasok (supply chain management).

Bagaimana dengan prinsip,”rasa adalah segalanya”?

Tentu saja ini kuno, dekaden. Bukan kualitas yang jadi ukuran, tapi seberapa upaya kita menciptakan ”mitos” dan membuat label pada hasil produksi atau dagangan itulah yang utama. Sesampah apapun resto cepat saji, ia tetap diserbu pengunjung. Orang-orang akan makan dengan lahap ayam horn beserta ”mitos” yang dibangun. Soal tidak memenuhi standar gizi, hehehe jangan bergurau dengan saya. Ini bisnis, hellow!

Apa yang saya kemukakan adalah rahasia umum. Semua orang boleh tahu, tapi tak semua orang mau ambil pusing. Di dunia modern, eksistensi lebih mengenyangkan ketimbang nasi. Zaman ini merubah manusia dari seorang ”budak perut” menjadi ”budak lidah”. Urgensi makan, yang pada awalnya sebagai sarana mensyukuri nikmat Allah dan memelihara ciptaannya, bergeser menjadi ”makan untuk kenyang”, bergeser kembali menjadi ”makan untuk cari enak” dan menjadi ”makan untuk eksis”. Itulah mengapa ayam horn lebih dikenal, diterima, dan menancap dalam benak.

Baca Juga :  Tol Mojokerto - Jombang Seksi 3 Dibuka Gratis Untuk Jalur Mudik

Manusia Horn

Saya pikir, hanya ayam horn yang bernasib sial lantaran hidupnya ”dikerdilkan krangkeng”. Tapi ternyata saya salah. Manusia lebih parah karena sial dua kali: sial dikerangkeng hidupnya dengan sekolah (baca: mesin penyeragam massal) dan dikerangkeng oleh gaya hidup. Kerangkeng pembelenggu itu membuat para penghuninya mau tidak mau berorientasi pada untung-rugi, berusaha jadi manusia ”siap pakai”, mengejar pencapaian-pencapaian semu, karier, relasi, yang untuk memperolehnya butuh tenaga ekstra dan rai gedhek serta sejuta irrasionalitas lainnya. Meski kenyataan ini membuat saya juga pakewuh untuk menyebut sebagai manusia modern hari ini sebagai ”manusia horn”. Kalau misalkan istilah ”ayam” diganti dengan kata ”garuda”. Tentu akan semakin kurang ajar rasanya apabila menyebut garuda dengan istilah ”garuda horn”.

Sejak manusia modern mulai doyan sarapan eksis, mereka mulai tak kenal lagi pada ”kesejatian”. Mereka hanya tahu pada ayam horn, ikan horn, garuda horn, manusia horn, demit horn dan horn-horn lainnya. Apa salah makan ayam horn? Apa salah ayam horn? Tidak! Ayam horn tidak salah. Si kepala-kepala bisnis itulah yang patut dikemplang. Untung saja yang jadi ”horn” itu ayam. Mahluk yang tidak bisa protes pada komnas HAM. Ayam horn hanya bisa mengadu pada Tuhannya. Lha bagaimana kalau yang jadi horn adalah manusia?

Justru di sinilah menariknya: tidak ada ”manusia sejati” sebagaimana pelanggan resto cepat saji yang tidak kenal ”ayam hutan”. Mungkin di balik kepasrahan ayam horn dikerdilkan hidupnya tersimpan protes terpendam atas nasibnya. Lain halnya dengan manusia yang justru kesetanan untuk mengejar status horn; menjadi manusia horn; menghayati horn. Justru mereka yang ingin jadi ”manusia siap pakai” dan mengabdikan hidupnya menjadi mur-baut kecil dalam rangkaian mesin besar industri, pemerintahan, perdagangan dan segala lingkaran yang menguntungkan. Soal harga diri, identitas, sejarah yang lenyap itu tidak jadi soal karena itu urusan nomor 456 dan karier sebagai manusia horn adalah yang utama.

Baca Juga :  Persembahan Mahasiswa Mojokerto di Kampung Budaya Universitas Brawijaya IV

Bibit Ayam Horn Mojokerto

Kalau kata orang tua jaman dulu, semua ayam itu bisa terbang dan hidup liar. Kemampuannya terbang hilang sejak manusia berpikir untuk memelihara ayam di kandang. Meski mereka masih dibiarkan berkeliaran di halaman, tapi lambat laun mereka jadi kian lambat tak lagi bisa terbang. Ketika yang butuh ayam adalah industri, maka dikerangkenglah mereka. Dikumpulkan dalam jumlah besar, dipelajari, dikawin silang, disuntik, direkayasa sedemikian rupa agar lebih cepat bertelur dan bisa segera dipanen. Kalau bagi manusia hari ini, mungkin ”kerangkeng” itu berupa partai, kampus, asosiasi bisnis, dan aneka kursus hidup lainnya.

Sejarah panjang manusia-manusia unggul Nusantara perlahan memudar dari waktu ke waktu. Akses mereka mencari jati dirinya ke sejarah diputus tanpa sisa. Sejarah generasi muda diungsikan ke negeri-negeri jauh. Tujuan dari pelenyapan sejarah ini tak lain dari upaya mengkerdilkan manusia Nusantara untuk menjadi buruh pabrik dan buruh waralaba. Orientasi hidup mereka dibelokkan sedemikian rupa, dari manusia pencari kesejatian menjadi sekedar pencari sedekah dan kemurahan hati penjajah. Tentu saja kalau ingin sedikit bisa mencicipi kemewahan, mereka harus bersujud dan merendahkan harda diri kemanusiaan pada apa yang tak semestinya.

Hanya orang-orang sepuh yang masih hidup saja yang sedikit paham bila manusia nusantara bukan manusia-manusia sembarangan. Tapi itu hanya berlaku pada dirinya, tidak pada keturunannya yang semakin lama semakin horn; semakin murahan. Awalnya saya pikir letak geografis daerah-daerah seluruh wilayah Indonesia berpengaruh dalam kepahaman mereka pada sejarah dan jati diri. Kalau di runut berdasarkan tempat dimana artefak-artefak  bukti kejayaan masa silam itu banyak tersimpan, tentu saja remaja di Mojokerto akan berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Tapi, sepertinya anggapan itu salah. Generasi muda Mojokerto juga tak jauh berbeda dari wilayah lainnya, terutama kalau dilihat dari kaliber mereka dalam segala hal. Mereka tak ubahnya ayam horn yang semaput di kaki modernitas.

Baca Juga :  ”Tuhan Baru” Demokrasi

Kalau sejarah diungsikan ke negeri-negeri jauh oleh penjajah itu mungkin hal yang lumrah. Tentu walanda tak akan ikhlas begitu saja Indonesia merdeka, generasi mudanya maju dan tahu siapa dirinya. Tapi, yang menarik, sejarah nusantara justru disembunyikan para orang tua di sana atas nama ekslusifitas. Kejayaan nusantara dihayati-dirayakan hanya di ranah-ranah seremonial tanpa diturunkan ke konsep-konsep yang praktis.

”Sejarah itu seperti sangat jauh. Kita memahami jati diri hanya pada apa yang disuguhkan sekolah, lingkungan, televisi, dan sumber-sumber lain,” kata mereka suatu kali dengan pandangan kosong.

Mojokerto yang dulu nampak ”megah” kini tak ada bedanya dengan Surabaya, Jakarta, Bandung. Kenyataan baru yang saya terima adalah, Mojokerto bukan hanya penghasil sepatu, tapi juga produsen ayam horn, manusia horn dan garuda-garuda horn yang pandangan matanya kuyu karena lele. Sorot mata mereka tak lagi punya ”api” seperti orang-orang tuanya. Sayang sekali.

Mungkin remaja lele, generasi horn Mojokerto hanya siklus biasa dalam hidup. Sebagaimana Burung Garuda yang ketika menginjak usia 40 memiliki naluri untuk terbang ke gunung untuk mematukkan paruh dan cakarnya hingga lepas. Lalu garuda itu akan mendadak kempong tanpa paruh, tanpa cakar dan tak bisa makan kecuali untuk sesuatu yang instan dan lembek. Mereka tak akan kembali seperti semula hingga paruh dan cakarnya tumbuh kembali lalu kembali menjadi manusia nusantara. Tapi, apa iya bisa begitu?

  • Jumat Kliwon, November 2016
  • Penulis : Citra D. Vresti Trisna

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR