BerandaKOLOMWARKOP KKalau Saya Dukung Sekolah Delapan Jam, Kamu Gak Terima?

Kalau Saya Dukung Sekolah Delapan Jam, Kamu Gak Terima?

385
0
BAGIKAN
Suasana tenang saat Siswa Sekolah Dasar sedang mengerjakan ulangan. Foto : Affan Bahrudin

Kabar Mojokerto – Ribut-tibut soal kebijakan sekolah delapan jam sehari sudah bisa saya tebak kemana arahnya: Finlandia. Memangnya kenapa kalau sekolah di Finlandia itu hanya 3-4 jam per hari?

Soal full-day school karena Sabtu-Minggu libur, itu kan urusan teknis. Jadi jangan diambil pusing dan dibikin ribut. Kurikulum pendidikan di Indonesia dianggap tidak berorientasi kearifan lokal dan lingkungan, tapi justru seolah-olah dipersiapkan untuk jadi buruh. Bukankah ini sudah sejak dulu terjadi, mengapa baru ribut sekarang?

Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut dengan serangkaian protes kebijakan (kabinet ajaib) Muhadjir Effendy. Karena protes itu lumrah di negara demokrasi, asalkan bidikan protes itu dari sudut pandang yang tepat, punya akurasi berpikir dan jelas presisi permasalahannya. Tapi, kalau kemudian protes itu berangkat dari inverioritas kebangsaan sehingga menuduh anak Indonesia tidak lebih baik dari Finlandia, itu keblinger namanya.

Saya tidak ingin membandingkan sekolah formal mana yang lebih bagus antara Indonesia dan Finlandia. Setahu saya, lamanya jam belajar di kedua sekolah itu sudah tepat berdasarkan kualitas generasi mudanya. Indonesia memang harus dibuat delapan jam dan Finlandia cukup dengan 3-4 jam. Karena gen unggul Bangsa Nusantara itu siap saja mau sekolah berapa lama. Justru kalau Finlandia memaksakan mau mencontek sekolah Indonesia, pasti anak-anak mereka stress, kongslet dan meledak otaknya. Sebaliknya, kalau sekolah di Indonesia harus mencontoh sekolah Finlandia, ya, sayang sekali kalau masih kuat mikir tapi tidak dimaksimalkan.

Jangankan delapan jam, kalau Muhadjir berani menantang badai kritik dan berani tidak populis untuk bikin sekolah sampai magrib atau sampai isya juga ndak ada masalah. Manusia Indonesia itu gen unggul yang mampu bertahan di semua situasi. Bagi gen unggul, tidak ada bedanya antara sekolah delapan jam atau 3-4 jam. Kalau benihnya baik, ya, baik. Tidak bergantung berapa lama mereka sekolah.

Mencari formula pendidikan yang pas di Indonesia dengan menjadikan penelitian di Oxford mengenai waktu memulai jam belajar anak usia SD dan SMP yang dikaitkan dengan jam biologis dan pertimbangan kebutuhan tidur itu sinting. Tidur 8-10 jam per hari itu bukan membuat otak cerdas, tapi mengajak anak Indonesia ”belajar mati”. Saya tidak peduli apa kata Oxford mengenai jam tidur, karena saya pribadi lebih percaya kepada dawuhe Imam Al Ghazali: tidur itu ”menyerupai orang mati”. Bagi saya, mengaitkan jam tidur dengan waktu sekolah itu aneh, karena sekolah itu perkara belajar dan proses akal, sedangkan tidur itu sebaliknya.

Apa yang saya sampaikan hanya tawaran dari sudut pandang saya. Saya apresiasi keresahan para aktivis pendidikan karena tentu saja mereka punya niat baik pada generasi muda Indonesia. Kalau mereka protes soal penambahan jam belajar, tentu mereka jangan hanya membabat Muhadjir. Kasian sekali, kan? Coba mampirlah ke pesantren salaf yang menganut sistem tradisional. Tengoklah juga kapan mereka memulai waktu belajar dan beraktivitas. Di sana, sebelum subuh mereka sudah harus siap-siap dan mulai setelah sholat subuh. Bahkan ada beberapa pesantren yang sudah beraktivitas sejak pukul dua pagi.

Kalau lembaga pendidikan seperti sekolah formal, hanya delapan jam saya pikir itu masih biasa bagi gen unggul Bangsa Nusantara. Coba saja, beranikah anda memprotes sistem di pesantren salaf? Karena di dalamnya, ya, generasi muda atau anak-anak Indonesia juga. Apakah dalam kasus ini, pesantren tidak masuk hitungan dan dibedakan dengan sekolah formal dalam konteks sistem belajar di dalamnya? Bukankah mereka juga sama-sama belajar? Bukankah dalam logika circadian rhythm, pesantren-pesantren itu keblinger?

Mungkin pengajar-pengajar pesantren itu terlampau sering menghayati Sholawat Tarhim yang kerap dikumandangkan sebelum subuh. Sehingga berulang kali pengajar pesantren itu mendengar kata, ”Ya man asro bikal muhaimnu lailan nilta ma’ nilta wal anamu niyam” (Duhai yang memperjalankanmu di malam hari Dialah yang Maha Melindungi, engkau memperoleh karunia saat semua manusia tidur). Ya, saya bersyukur Generasi Garuda ini dididik lebih sering ”terjaga” ketimbang ”belajar mati”.

Baca Juga :  Stres, Mbah Jenggot Mojokerto Solusinya

Istirahat tidur itu memang penting bagi keseimbangan. Tubuh punya hak untuk diistirahatkan. Bila seseorang sudah menguap, itu tanda tubuh butuh diistirahatkan. Tapi kalau menjadikan tidur sebagai kebutuhan pokok dan memutlakkan dengan delapan jam tidur itu kurang tepat. Karena pada hakikatnya, yang tidur adalah badan, sementara pikiran, roh dan hati kita (seharusnya) tidak tidur.

Seharusnya sejak dini anak dibiasakan hanya memberi hak pada badan untuk istirahat ketika sudah benar-benar payah dan tidak mungkin melakukan aktivitas lagi. Meski demikian, sebelum tidur hendaknya mereka membiasakan untuk menyerahkan tugas kepada pikiran untuk menyelesaikan sesuatu yang belum dapat mereka selesaikan. Jadi ketika mereka tidur, pikiran mereka senantiasa bekerja, roh tetap ”terjaga” dan hati memberikan pertimbangan atas hasil kerja pikiran. Ketika bangun, mereka mendapat jawaban dari ilmu yang belum mereka pahami sebelum tidur. Di tengah Indonesia sedang mengalami ”tidur” nasional, pendidikan kita memberikan gebrakan baru.

Indonesia darurat ikeh-ikeh kimochi dan playstation

Mempermasalahkan jam belajar anak sekolah itu mesti berangkat dari pertimbangan yang matang. Para pemerhati pendidikan mesti melakukan simulasi: bagaimana jika jam belajar di Indonesia mengadopsi yang ada di Finlandia. Setelah 3-4 jam mereka sekolah, tanpa pekerjaan rumah, apa yang harus dilakukan anak-anak Indonesia? Apakah waktu yang tersisa itu akan digunakan untuk menjalani ekstrakulikuler playstation, game online di warnet, atau chat sex dengan teman, atau justru menonton film nganu? Ataukah mereka harus menghabiskan sepanjang waktu dengan berkeliaran, tawuran, atau…?

Pendidikan sebuah generasi tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang. Lingkungan pun memiliki pengaruh yang kuat pada pertumbuhan mental dan karakter seorang anak. Karena pada dasarnya anak-anak adalah ”perekam” yang handal. Setiap peristiwa direkam dengan baik dan dimasukkan ke dalam software mereka untuk diolah.

Siapa yang akan mengawasi mereka sepulang sekolah? Bisakah kita menyediakan lingkungan yang baik untuk proses tumbuh kembang anak? Kalau ingin melihat lebih jauh potret kelam lingkungan, cobalah anda main ke wilayah Duri Pulo tempat saya tinggal. Berapa banyak anak bergerombol menonton film biru, atau belajar teknik maling atau bahkan melakukan tindakan asusila ke sebayanya.

Mungkin di Finlandia setelah anak-anak belajar, mereka menemukan lingkungan yang ramah untuk tumbuh dan tidak harus dipusingkan dengan faktor-faktor perusak mental. Para orang tua di Indonesia hampir semuanya disibukkan dengan bekerja dan menyerahkan anak sepenuhnya pada lingkungan, sehingga tidak ada yang mengawasi mereka belajar. Kalau mungkin di tahun 60-an, kebijakan sekolah harus delapan jam akan terdengar masuk akal ketika lingkungan tidak sekejam sekarang. Mungkin di tahun-tahun itu Jepang belum bekerja siang malam untuk menciptakan game-game kekerasan dan memproduksi film porno 24 jam nonstop sehari untuk konsumen Indonesia. Ya, Indonesia sekarang sedang darurat ikeh-ikeh kimochi dan playstation.

Baca Juga :  Debu Kotor di Kantor PBNU

Lho, bukannya sudah diblokir? Itulah masalahnya, namanya juga generasi Nusantara yang pilih tanding tidak akan bisa dibendung rasa keingintahuan dengan sekedar pemblokiran. Cara mereka uthek-uthek teknologi itu sudah tidak perlu diragukan. SD, SMP, SMA sekarang itu kelewat jenius.

Itulah mengapa saya lebih sepakat kalau mereka harus berdiam di sekolah selama mungkin karena, pertama otak generasi kita mampu dan kedua tidak ada yang percuma dalam belajar. Meski anak tidak paham dengan apa yang disampaikan bapak-ibu guru di kelas, tapi yang jelas, ilmu itu seperti benih. Ada yang tumbuhnya cepat dan ada yang lama. Yang jelas mereka semua akan menuai ilmu tersebut di waktu yang tepat dan itu terserah Allah.

Kalau toh aktivis pendidikan ingin “menyama-nyamakan kelamin” dengan orang Barat dan anak Indonesia juga harus sekolah 3-4 jam saja, ya, silahkan berdialog dengan Pak Muhadjir. Tapi apakah pemerhati pendidikan, aktivis, Muhadjir, dan Jokowi bisa memberikan jaminan generasi Indononesia tidak akan menjadi pengisi kekosongan buruh pabrik?

Mas-mbak aktivis tenang saja, saya hanya guyon soal jaminan tidak menjadi buruh pabrik. Saya paham yang mas-mbak maksudkan. Memang yang mas bro aktivis permasalahkan adalah korelasi antara lama waktu sekolah dengan kualitas sumber daya manusia yang dicetak lembaga pendidikan. Tapi, kalau mas-mbak pikir kualitas generasi nusantara ini tidak jauh lebih hebat dari bocah-bocah Finlandia itu juga keblinger namanya.

Mungkin kita perlu menakar dengan jeli seperti apa kualitas gen nusantara. Kalau kita katakan, orang Indonesia itu tidak jenius itu salah besar. Bagaimana kita bisa menutup mata terhadap prestasi anak-anak Indonesia di bidang science? Kalau hanya sekali jadi juara itu mungkin kebetulan atau karena jurinya ngantuk, tapi anak-anak Indonesia ini langganan juara dan dunia mengakui, apa itu ndak hebat namanya? Berapa banyak penemuan luar biasa dari generasi muda di Indonesia yang dibiarkan begitu saja tanpa dibina?

Mas-mbak, Indonesia itu gudangnya orang pintar. Cobalah dolan ke dekat kos saya di dekat sungai daerah Duri Pulo. Sebelum ITC Roxy Mas itu ada jembatan tempat lapak-lapak ponsel. Di sana banyak para drop out atau orang-orang dengan pendidikan ala kadarnya yang setiap harinya sibuk mengotak-atik ponsel rusak. Asalkan anda punya uang, seremuk-remuknya ponsel bisa kembali greng bila mereka sudah turun tangan.

Kalau anda enggan ke Roxy itu tidak masalah. Anda bisa mengambil pelajaran dari banyaknya bocah salah jurusan yang kemudian justru berhasil dengan baik di tempat yang salah itu. Anda juga bisa mengambil pelajaran dari banyaknya sarjana pertanian yang bekerja di bank atau PNS; sarjana matematika jadi politisi; sarjana hukum jadi bandar togel; sarjana ekonomi kerja di bengkel. Ini adalah bukti bila pendidikan tidak jadi patokan dimana seseorang akan bekerja. Kemampuan manusia Indonesia dalam menyesuaikan diri itu luar biasa.

Subhanallah, iseng-iseng Pak Muhadjir itu luar biasa

Pak Muhadjir, njenengan tidak perlu kawatir soal penguatan pendidikan karakter bila yang diurusi adalah masa depan gen unggul Indonesia. Mereka semua mampu bertahan dari di berbagai kondisi dan kerumitan yang bahkan orang luar negeri tidak sanggup. Jadi mau dimiskinkan ribuan kali pun rakyat siap. Mau BBM dinaikkan sembunyi-sembunyi, listrik, air, kebutuhan sehari-hari naik juga tidak masalah. Bahkan mungkin rakyat menantang untuk menarik bayar oksigen yang setiap hari kita hirup.

Baca Juga :  Dukun Tiban Nasional

Rakyat Indonesia ini mampu belajar secara otodidak atas berbagai permasalahan yang terjadi. Hansip di kampung saya rokoknya Dji Sam Soe lo pak. Itu kan wow. Padahal pekerjaan ini diremehkan orang. Penghasilan tidak seberapa pun harus tetap nggaya. Kata ekonom dunia, Indonesia ini negara miskin, tapi coba saja datangkan sampah-sampah otomotif Jepang, Cina, Eropa, pasti ludes dan laris manis. Lha bagaimana mereka beli itu semua tanpa punya ilmu managemen keuangan yang tingkat dewa?

Pendidikan kita, meski dibilang terbelakang, nyatanya tetap menghasilkan sarjana-sarjana yang kemlinthi. Bandingkan dengan sarjana-sarjana barat yang, meski sekelas profesor, mereka terlihat cupu dan tidak berani pethita-pethiti. Buat apa pintar tapi cupu? Buat apa miskin tapi minder? Rugi dua kali itu namanya. Kalau tahu miskin, ya, tetap harus berani sombong karena itu yang luar biasa. Pak menteri, mental seperti ini hanya dimiliki oleh keturunan bangsa besar. Kalau rakyat Indonesia ini tidak pernah minder dengan dirinya sendiri, tapi mengapa kita selalu dipaksa pemerintah menyama-nyamakan kelamin dengan orang barat; mengapa justru pemerintah yang minder?

Pak Menteri yang terhormat, rakyat kita insyaallah siap dengan setiap kondisi yang diciptakan. Saya tidak menyalahkan njenengan yang ujug-ujug mengambil kebijakan menambah durasi belajar. Karena tentu saja kebijakan itu berangkat dari pemahaman anda yang sangat mengakar pada apa yang namanya pendidikan. Tidak salah kiranya Pak Jokowi memilih bapak sebagai menteri. Teruskan, pak, saya siap membantu. Soal ada yang protes, itu kan biasa. Atau mungkin kebijakan itu berangkat dari sikap iseng-iseng juga ndak masalah. Ketimbang ndak ada kerjaan, lebih baik bikin kebijakan yang nggaya, iya kan pak? Ya, pak anda luar biasa. Iseng-iseng saja keren apalagi serius. Tabik.

Duhai menteri saya yang luar biasa. Sebenarnya saya memahami betapa orang Indonesia ini memang harus dicetak untuk siap jadi kuli. Karena di balik segala kearifan lokal, anda tahu persis bila Indonesia itu bangsa yang kelewat sungkan. Orang Indonesia memang pintar-pintar, tapi mereka diam-diam tidak ingin mbagusi untuk menduduki posisi pimpinan. Kita ini sungkan dengan orang luar negeri yang cupu itu, sehingga mereka kita impor besar-besaran dan diundang dengan karpet merah agar menjadi tuan rumah dan kita jadi babu. Lha wong jadi babu saja bisa hidup rasa bos, untuk apa harus jadi juragan? Itu kan mau menangnya sendiri. Iya, kan pak?

Soal penambahan jam pendidikan itu njenengan saya bela karena saya paham pemerhati pendidikan itu sama seperti bapak. Sedang nganggur banget. Jadi mereka akal-akalan protes. Saya harap bapak mau memafkan mereka. Insyaallah di tulisan selanjutnya saya akan kembali menyapa bapak. Karena, ya, itu. Saya ngefans dengan bapak. Peluk-cium.

Jakarta, Sabtu Pon, Juni 2017

  • Penulis : Citra D. Vresti Trisna
  • Editor : Affan Bahrudin

Comments

comments