NEWS

Kegiatan Pembelajaran Siswa Di SDN Mojolebak Harus Menggunakan Masker

Mojokerto, Kabar Mojokerto – Akibat terpapar polusi pabrik peleburan besi dan baja, jumlah siswa di SDN Mojolebak, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, berkurang drastis. “Tahun ini saja hanya ada 20 murid baru dan sepuluh anak sudah pindah ke sekolah lain,” kata Kepala SD Mojolebak Bapak Taryono, dikutip dari tempo.co. Tidak hanya itu, dikutip dari Radar Mojokerto bahwa sekurangnya 10 siswa kini terjangkit penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) setiap harinya. Kondisi inilah yang menjadi pertimbangan wali murid untuk memindahkan sekolah anaknya ke luar desa Mojolebak.

Sekolah Dasar tersebut terpapar polusi pabrik peleburan besi dan baja yang hanya berjarak sekitar 40 meter dari sekolah dan hanya dipisahkan dengan kebun tebu. Polusi pabrik tersebut sudah berlangsung lama dan sempat diprotes masyarakat setempat yang juga terpapar pada Oktober 2014. Meski sudah ada perbaikan pengendalian pencemaran dari perusahaan, namun dampak pencemaran masih dirasakan dan mengganggu kehidupan manusia sekitar. Pabrik tersebut mengeluarkan asap dan partikel yang menggangu penglihatan dan pernafasan. Sehingga Siswa terpaksa memakai masker.

Dinas Pendidikan (Dispendik) akhirnya turun tangan memantau polusi udara di SDN Mojolebak, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, akibat aktivitas pabrik pengolahan besi PT NIM (Nasional Interindo Metal) Selasa (20/9) pagi.

Dispendik menyarankan segera dilakukan upaya penyelesaian akan terjadinya pencemaran lingkungan, khususnya di lembaga pendidikan. ”Saya minta kepada kepala UPT Dispendik Jetis untuk berkordinasi dengan pihak desa. Bagaimana upaya dan tanggung jawab perusahaan kepada kita,” ungkap Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Bapak Yoko Priyono dikutip dari Radar Mojokerto.

Saat melihat fakta di lapangan, dia juga meminta Badan Lingkungan Hidup (BLH) segera melakukan uji kualitas udara. Sebab, kata Yoko, dikhawatirkan bisa berdampak pada kesehatan siswa. ”Prinsipnya saya harus melindungi anak-anak,” jelasnya.

Bapak Yoko memaparkan, jika dalam pelaksanaan uji tersebut nanti ditemukan ada polusi membahayakan harus ada tindakan tegas yang dijatuhkan kepada perusahaan. ”Paling tidak pihak perusahaan harus segera memperbaiki sirkulasi udara dari proses produksi itu,” tegasnya. (aks/fan)

Sumber: Tempo.co dan Radar Mojokerto

Penulis: Andik Kurniawan Santoso

Editor: Affan Bakhrudin

Comments

comments

Tags

Related Articles