BerandaKOLOMOPINIKita memang sudah merdeka, Tapi apakah kita sudah tidak lagi dijajah ?

Kita memang sudah merdeka, Tapi apakah kita sudah tidak lagi dijajah ?

651
0
BAGIKAN
Anak kecil melakukan lomba 17 Agustus di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong/Foto : Kartar Bimantara

Entah tertawa geli atau menangis tersedu-sedu para pejuang bangsa indonesia melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kemerdekaan yang benar-benar diperjuangkanpara pejuang bangsa Indonesia harus dibayar dengan keringat, air mata bahkan nyawa mereka. “71 tahun bangsa ini sudah merdeka’’, entah kalimat tersebut sebuah pernyataan atau pertanyaan. Memang pada kenyataannya semakin lama dan semakin tua usia bangsa ini, masyarakat kita semakin tidak menghargai apa yang sudah diperjuangkan oleh para pejuang bangsa Indonesia.

Ketika otak, keringat, air mata bahkan nyawa bapak-bangsa bangsa kita dipertaruhkan untuk meraih sebuah kemerdekaan pantaskah kita sebagai penikmat tidak menghargai semua itu? Ada satu fase dimana setelah sebuah proses ‘memperjuangkan’ sudah diraih maka yang selanjutnya harus dilakukan ialah “mempertahankan”.

Kolonialisme yang dulu terlihat sebagai suatu penjajahan, siksaan dan paksaan yang kejam kini kembali muncul dengan wujud yang berbeda. Dan parahnya kita sangat menyambut gembira dan juga sangat menikmatinya.

Kita memang sudah merdeka tapi apakah kita juga sudah tidak lagi dijajah?. Seni, budaya, adat istiadat, kebiasaan dan norma-norma yang sudah ada sejak dulu apakah masih kita lestarikan? Apakah masih kita jalankan?

Seperti kalimat yang tertulis di awal, entah tertawa geli atau menangis tersedu-sedu para bapak-bapak bangsa kita melihat kondisi bangsa ini yang lebih bangga dengan budaya asing daripada budaya bangsa sendiri. Seolah-olah mereka malu akan identitas mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Saat Ini memang era globalisasi, jangan sampai kita dianggap bangsa yang kuno, yang tidak modern, yang tidak canggih namun untuk membuktikan itu semua jangan sampai kita menjual nasionalisme kita.

Momentum tahunan 17 Agustus sangat bisa dijadikan suatu alat untuk mempertahankan kemerdekaan, kenapa demikian? Karena di setiap lomba-lomba yang diadakan hampi tidak ada budaya asing yang diadopsi. Balap kelereng, tarik tambang, balap karung, makan krupuk, panjat pinang dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  Pembangunan Tol Joker Untuk Mudik Lebaran Baru 80 Persen

Perjuangan pada saat berkompetisi dalam lomba memang jauh berbeda apabila dikaitkan dengan usaha dan upaya para pejuang bangsa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia namun esensi dari lomba tersebut memang bukan untuk berjuang merebut “suatu capaian” tapi lebih ke “mempertahankan” kemerdekaan.

Biarkan momentum acara tahunan 17 Agustus tetap suci tanpa dikotori oleh budaya asing, biarkan tawa mereka bisa lepas menikmati setiap perlombaan yang disajiikan. Bukan berarti kita anti terhadap bangsa asing tapi alangkah lebih baiknya apabila kita lebih menghargai budaya bangsa sendiri. Dengan momentum 17 Agustus kali ini bisa kita jadikan sebagai langkah awal untuk lebih bangga terhadap budaya bangsa Indonesia. Semoga dengan bertambahnya usia kemerdekaan bangsa Indonesia ini kita semua bisa lebih menjunjung dan menghargai budaya bangsa Indonesia. Mari kita buat para pejuang Bangsa Indonesia yang telah tiada bisa tertidur pulas dan bermimp indah.

Dirgahayu Indonesiaku.
“Indonesia Kerja Nyata”
Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi kepemimpinan Nasional Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Semakin Maju dan Sejahtera.

Penulis : Kontributor Mojokerto, Muhammad Syafi’i
Editor : Affan Bakhrudin

Comments

comments