Mahasiswa? Atau Mahasiswa!

Mahasiswa? Atau Mahasiswa!

693
0
BAGIKAN
Ilustrasi

‘’Mahasiswa’’, Sebuah status sosisal yang diperuntukkan bagi mereka yang sedang mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Bahkan di daerah tertentu status menjadi “Mahasiswa” dinilai sebagian orang sebagai kasta yang tinggi yang harus dihormati dan begitu dihargai baik pendapat maupun pemikirinnya, padahal pada kenyataannya seorang “Mahasiswa” sama seperti status sosial yang lain namun banyak dari mereka yang menyandang status sebagai “Mahasiswa” lupa akan siapa mereka dan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Selain mengacu pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, peran “Mahasiswa” sendiri juga sebagai agent of change, social control dan iron stock. Tapi akan terlalu jauh  apabila masing-masing peran tersebut harus dijelaskan disini.

Serupa namun tak sama bisa juga dikatakan sama namun beda pada pengertianya, judul diatas sama-sama menggunakan kata “Mahasiswa” namun beda pada tanda yang mengakhiri kata tersebut. Lantas apa perbedannya?

Banyak dari mereka setelah menyandang status “Mahasiswa” menjadi lupa akan segalanya, dalam arti mereka hanya sibuk mengurusi urusan perkuliahan, lebih dalamya dalam perkuliahan tidak hanya soal akademis tapi juga non-akademis, keduanya harus berjalan seimbang. Akademis selalu dikaitkan dengan urusan nilai, ipk, sks, absen dan semacamnya. Non-akademis biasanya dikaitkan dengan keterlibatan dalam berorganisasi baik organisasi internal maupun eksternal. Menarik bicara tentang organisasi yang diikuti oleh “Mahasiswa”, mulai dari Badan Eksekutif dan legislatif Mahasiswa, lebih jauh ada juga yang mengatasnamakan Himpunan, Kesatuan, Persatuan, Ikatan, Pemuda, dan Gerakan Mahasiswa semua mempunyai tujuan yang sama. Meneriakkan keadilan, menyuarakan aspirasi, menolak kebijakan, menuntut birokrasi agar lebih baik. Tidak ada yang salah dalam organisasi maupun berorganisasi. Yang salah adalah ketika mereka yang mengatasnamakan “Mahasiswa” menjadi seorang yang beranggapan bahwa mereka selalu benar, bahwa tuntutan mereka harus direalisasikan.

Baca Juga :  Membudayakan Bahasa Daerah ‘Kembali’ di Era Modernisasi

Mereka lupa bahwasanya mereka tidak seterusnya menjadi seorang “Mahasiswa”, mereka juga menjadi anak dari orang tua mereka, menjadi kakak bagi adik mereka, mereka juga lupa bahwa organisasi pertama kali yang diikuti adalah sebuah keluarga. Ketika mereka melakukan aksi meneriakkan keadilan apakah mereka sendiri sudah adil terhadap sesama? Ketika mereka menuntut pemebenahan sebuah birokrasi apakah tuntutan orang tua mereka sendiri sudah mereka penuhi? Ketika mereka meneriakkan aspirasi apakah suara-suara orang tua mereka sudah mereka dengarkan? Belum lagi bicara soal peran mahasiswa sebagai agent of change, social control dan iron stock, sudahkah mereka mulai dari diri sendiri ? Mungkin benar yang pernah dikatakan Soe Hok Gie ‘Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan tapi menindas kalau berkuasa, hanya mementingkan golongan, ormas dan teman seidieologi.

Lantas apa yang harus berbenah ? Sebuah kontruksi orientasi yang harus dibenahi. Kawan  “Mahasiswa” baru tidak butuh didoktrin atau dirayu untuk masuk dalam suatu organisasi tertentu, cukup kalian agitasi dan disadarkan kenapa harus berorganisasi. Jadi bukan perkara seberapa besar organisasi kalian dan segagah apa bendera kalian. Ilmu dalam non-akademis sangatlah penting tapi jangan mengesampingkan tuntutan akademis, semua harus berjalan beriringan. Perlu diketahui juga untuk melawan tidak harus membangkang, tidak harus turun ke jalan apalagi membakar ban sampai korban berjatuhan. Membaca juga melawan, menulis juga melawan.

Penulis : Muhammad Syafi’i

Editor : Affan Bakhrudin

 

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR