BerandaKOLOMWARKOP KMajma’ al Bahroin dan Takdir ”Kebablasan” Bangsa Indonesia

Majma’ al Bahroin dan Takdir ”Kebablasan” Bangsa Indonesia

365
0
BAGIKAN
Ilustrasi. Foto : sicopas.wordpress.com

Kabar Mojokerto – Saya lahir di hari Kamis. Sebuah hari yang konon diberi lambang ”pusaran angin”.  Mungkin ini yang membuat saya jadi tukang ngeluyur dan tidak betah di rumah. Tapi, saya yakin bila hidup adalah serangkaian perjalanan yang berkelindan di dalam diri. Perjalanan bukan sekedar perpindahan manusia secara ”materi”. Perjalanan juga bukan sesuatu yang disempitkan maknanya menjadi sekedar traveling, petualangan, foto selfi, dan lari dari rutinitas pekerjaan.

Setidaknya ada dua hal penting yang menjadi acuan perjalanan yang saya yakini, diantaranya: tujuan dan jeda (persinggahan). Tujuan perjalanan adalah mengenal asal-usul; innalillahi wa innaa illaihi raaji’uun. Sedangkan jeda (persinggahan) perjalanan adalah proses srawung dengan diri dan dengan tiga ayat Allah (manusia, alam dan Al Qur’an).

Sebenarnya kali ini saya ingin menggunjingkan masalah tujuan dan tawaf dalam ibadah haji sebagai rumus utama perjalanan. Tapi kok, ya, tema itu rada-rada serem dan kurang kekinian, sehingga saya putuskan untuk membicarakan jeda perjalanan saja. Karena, kunci dan makna perjalanan justru didapat ketika kita memberi jeda, jarak dan memutuskan bersinggah. Lalu di dalam jeda itu, kita menjadi kepompong dan lahir kembali menjadi manusia yang lebih utuh softwarenya.

Mengapa persinggahan? Mungkin karena persinggahan itu sangat ”kosmetik” sifatnya, seperti halnya singgah menjadi warga negara, menjadi orang tua, menjadi murid, menjadi manusia yang menjaga harmonisasi alam, menjadi sopir Bajaj sampai perjalanan menjadi penjual mercon bantingan di bulan Ramadhan, menjadi pendukung Habib Riziq atau Ahok.

Mungkin inilah yang membuat saya senang dengan pepatah Jawa: urip mung mampir ngombe. Karena, bagi saya pribadi, belum ada falsafah barat yang mampu menandingi kedalaman makna dalam balutan kata-kata sederhana, namun sangat sastra.

Kata ”mampir ngombe” punya makna yang cukup luas dan mendalam. Falsafah ini tak akan habis dijelaskan berjilid-jilid buku. Tapi, setidaknya yang saya garis bawahi dari mampir ngombe adalah sebentuk kesadaran sikap dan kepekaan manusia memahami tiga periodesasi penting hidup: masa silam, hari ini dan masa depan. Keinginan untuk selalu berkaca dan mempertimbangkan kemaslahatan hari ini serta cita-cita baik di hari depan akan melatih manusia eling lan waspodo; melatih tidak sembrono menjalani hidup.

Baca Juga :  Sebaiknya Koko dan Mas Habib Adu Tinju di Tempat Sepi

Mampir ngombe adalah kesadaran akan tiga periodesasi penting dalam hidup: masa silam, hari ini dan masa depan. Falsafah ini seharusnya membuat seseorang berupaya sebisa mungkin untuk tidak sembrono menjalani hidup. Segala keputusan hidup harus didasarkan pada sikap rendah hati untuk belajar pada masa silam dan mengupayakan yang terbaik di hari ini serta esok hari.

Selain itu, falsafah ini merupakan pengingat bila tugas utama hidup adalah untuk sebaik mungkin menjalani peran sesuai naskah Sang Maha Sutradara. Kita dituntut total menjalani peran, namun tetap memahami bila apa yang kita mainkan hanya sementara. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita tidak disibukkan meraih pencapaian palsu dan mengesampingkan yang sejati.

Belajar dari ”ikan hidup” dan ”kebablasan”

Persinggahan perjalanan mengingatkan saya pada perjalanan Nabi Musa menemui Nabi Khidir dalam rangka ”sekolah hidup”. Musa mendapat perintah untuk sowan, srawung ke Nabi Khidir di majma’ al bahroin (pertemuan dua arus). Tidak diragukan lagi bila selama bersama Khidir, banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Tapi, bukan pertemuan dengan Khidir jadi fokus saya kali ini. Karena, saya lebih tertarik pada adegan sesaat sebelum bertemu Khidir. Saya tertarik pada kalimat Musa yang berkata, ”Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum ke sampai ’pertemuan dua laut’; atau aku akan berjalan berjalan bertahun-tahun,” kata Musa kepada pengikutnya.

Setelah Nabi Musa sedikit kebablasan dan merasa lapar karena menempuh perjalanan jauh, Musa meminta pengikutnya untuk membuka bekal makanan mereka. Kemudian si pengikut menceritakan kejadian sewaktu di majma’ al bahroin. Ikan yang sudah dimasak untuk bekal tiba-tiba hidup kembali dan meloncat ke laut dengan cara yang aneh. Setelah mendengar kejadian itu, Musa menyusuri jejak mereka semula untuk pergi ke tempat ikan itu hidup hingga kemudian bertemu Khidir.

Ada beberapa hal perlu saya catat dari perjalanan Nabi Musa dan pembantunya sesaat sebelum menemui Nabi Khidir. Terutama pada saat ikan yang jadi bekal makanan Nabi Musa dan pengikutnya meloncat keluar sewaktu di majma’ al bahroin.

Pertama, mengapa Musa begitu berkeras untuk tidak berhenti berjalan sebelum bertemu majma’ al bahroin? Meski perjalanan itu atas perintah Allah, tapi yang jelas pertemuan dua arus air laut lebih dari sekedar fenomena alam. Perjalanan menuju majma’ al bahroin yang tertulis di Surah Al Kahf saya pahami sebagai pengingat agar manusia terus ”bergulir” dan mengambil pelajaran dari berbagai arus-arus kehidupan yang bertemu. Saya melihat majma’ al bahroin merupakan simbol dari kehidupan manusia yang dipenuhi berbagai paradoks. Selalu ada dua kutub berbeda yang saling tarik-menarik dan tidak dapat dipisahkan. Dan majma’ al bahroin adalah tempat pertemuan dua kutub yang berbeda itu.

Baca Juga :  Pilih Teori atau Dupa-Kemenyan?

Pertemuan dua arus air menjadi tempat ikan berkumpul dan hidup. Ikan senang berada di sana. Tentu saja ini adalah ayat bagi manusia untuk senantiasa mencari majma’ al bahroin dalam bentuk yang lain untuk menemukan kehidupan, rizki, cinta Allah serta hikmah dan pelajaran hidup. Dan majma’ al bahroin itu bisa berarti pertemuan antara baik-buruk, positif-negatif, terang-gelap. Dalam konteks yang lebih luas, mungkin pertemuan dua arus itu juga bisa berarti pertemuan dua arus pendukung Habib Riziq dan Ahok di sosial media. Pertemuan dua arus antara pendukung Jokowi dan Prabowo di pilpres 2014.

Tapi sayangnya, selama ini yang mampu mengambil manfaat secara materi dari pertemuan dua arus ini adalah media massa. Mereka menjadikan pertemuan dua arus dalam konflik horisontal rakyat sebagai momentum menemukan angle-angle tragis demi rating.

Pelajaran kedua, yang bisa dipetik dari perjalanan menemui Nabi Khidir adalah ketika Musa kebablasan. Musa baru sadar bila ia telah terlewat dari tujuan perjalanannya justru ketika ia lapar dan kelelahan karena berjalan terlalu jauh. Usai pengikutnya menceritakan peristiwa yang baru saja dia alami, Musa baru sadar bila ia kelewatan tempat ikan itu melompat adalah majma’ al bahroin.

Terkadang saya berpikir, orang sekaliber Musa saja masih bisa kebablasan dan telat meyadari dimana majma’ al bahroin, apalagi saya yang hanya seorang dargombes. Bila dibandingkan apa yang terjadi selama ini, terlewatnya Musa dari tujuannya adalah pertanda bila manusia di zaman akhir ini selalu terlambat untuk tahu dimana dia akan singgah untuk mencari ”hidup” dan mengambil pelajaran dari pertemuan dua arus hidup. Bahkan mungkin kalau dilihat lebih teliti lagi, kita bukan sekedar kelewatan, tapi sudah tidak peduli pada arus-arus hidup dan terus berjalan sempoyongan meninggalkan majma’ al bahroin dengan banyak luka tanpa sempat mengambil pelajaran.

Baca Juga :  Debu Kotor di Kantor PBNU

Pilpres 2014 berlalu tanpa memetik pelajaran berharga. Diikuti dengan perpecahan Indonesia menjadi sekedar Ahok dan Habib Riziq, perdebatan plagiarisme bocah SMA, hari pancasila. Entah berapa pertemuan arus lagi kita terus tawur dan melewati dua arus hidup tanpa mengambil pelajaran. Ketika seharusnya di majma’ al bahroin ikan mati pun (dilambangkan) hidup, tapi kita justru terus menjadi zombie yang terjebak di lapangan persibakuan tanpa nyali (medsos). Bahkan kesadaran bila urip mung mampir ngombe pun tak berbekas di kepala.

Kita yang terbelah merasa tawur massal adalah kesejatian tujuan hidup berbangsa, bernegara dan beragama. Persetan dengan batas-batas. Persetan dengan keharusan melihat sejarah, berlaku baik-benar-indah di hari ini dengan pertimbangan kemaslahatan hari esok. Tawur yang terjadi hari ini tidak kita lihat sebagai batas dan momentum untuk mencari cinta Allah yang menyamar. Kita lupa bila Allah selalu menitipkan ilmu, rezeki, hikmah yang berbalut cinta di setiap pertentangan dan jerit tangis luka. Ya, perang yang awalnya hanya ”jalan” berubah menjadi ”tujuan”.

Pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada semua pihak yang ingin menyelesaikan persoalan di Indonesia adalah: apakah orang Indonesia tahu bila sedang kebablasan? Apakah mereka belum letih berjalan? Atau mungkin kita justru tidak butuh istirahat dan ”makan ikan” karena tawur adalah suplemen mengenyangkan yang enak? Atau memang kita semua sudah tidak butuh ”sekolah hidup” dari Nabi Khidir?

Kalau saya, sih pengennya belajar karena masih butuh. Tapi, mungkin jalan kembali ke majma’ al bahroin sudah terlampau jauh dan kaki kita sudah penuh tempelan koyo cabe karena mulai linu, rematik dan varises. Ya, Gusti, jadikan kami wayang-Mu agar kami punya kekuatan kembali mengambil pelajaran hidup dan menikmati setiap drama cinta dari Njenengan. Bukankah hidup adalah mampir ngopi di majma’ al bahroin?

Wa iz qoola muusaa lifataahu laaa abrohu hattaaa ablugho majma’ al-bahroini au amdhiya huqubaa.

 

Penulis : Citra D. Vresti Trisna

Sabtu Wage, Juni 2017

Comments

comments