Membudayakan Bahasa Daerah ‘Kembali’ di Era Modernisasi

Membudayakan Bahasa Daerah ‘Kembali’ di Era Modernisasi

226
0
BAGIKAN
Ilustrasi bahasa daerah. Foto: hanidew.wordpress.com

Kabar Mojokerto – Lahir dan hidup di Indonesia seharusnya bisa membuat siapapun yang berkewarganegaraan Indonesia berbangga diri. Sebab Indonesia adalah negeri yang kaya akan alam dan ragam budayanya. Apabila diibaratkan sebagai warna, pastilah warna pelangi yang akan menghiasi langit Indonesia. Begitu pula ketika menilik keragaman bahasa daerah di negeri kita. Bahasa daerah yang dimiliki Indonesia  bagaikan ikan-ikan kecil yang bergerumbulan di laut.

Bahasa daerah merupakan salah satu lambang jati diri dan kebanggaan daerah yang harus tetap dipertahankan dan dilestarikan. Akan tetapi, faktanya di era modernisasi banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa kita. Bangsa kita pun tak dapat mengelak dan menutup diri dari tantangan-tantangan tersebut. Tantangan tersebut mencakup pergaulan bangsa kita dengan bangsa yang lain yang tentunya akan memberikan suatu dampak, baik positif maupun negatif.

Tak dapat dipungkiri, modernisasi memang memiliki beberapa dampak yang positif diantaranya yaitu berkembangnya IPTEK, tingkat kehidupan yang lebih baik, perubahan tata nilai dan sikap (sikap masyarakat irasional menjadi rasional), dan masih banyak yang lainnya. Namun, selayaknya semua yang tercipta di dunia ini pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pun dengan modernisasi ini. Modernisasi juga memiliki dampak yang negatif, diantaranya sikap individual, kesenjangan sosial, pola hidup konsumtif, gaya hidup ke barat-baratan, dan yang lainnya.

Fenomena yang tengah muncul saat ini yaitu banyak masyarakat yang mulai meninggalkan budaya lokal mereka untuk mengikuti arus modernisasi ini. Salah satunya yaitu melupakan bahasa daerah mereka secara perlahan. Dewasa ini, banyak kalangan khususnya pemuda yang mulai meninggalkan jati dirinya sebagai masyarakat yang bersuku dan mempunyai tata nilai. Rasa bangga yang seharusnya dipupuk, kini malah semakin memudar.

Baca Juga :  Car Free Day Benpas, berolahraga atau berbelanja?

Eksistensi bahasa daerah yang notabene sebagai bahasa ibu saat ini mulai ditinggalkan. Banyak orang berbondong-bondong ke sana ke mari untuk mempelajari bahasa asing, tetapi bahasanya sendiri (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) mulai dilupakan. Hampir 50 bahasa daerah di negeri kita telah punah. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi, diantaranya: malu menggunakan bahasa daerah karena dianggap norak atau kampungan, menggunakan bahasa daerah terlalu ribet karena ada strata-strata yang membedakannya seperti bahasa Jawa sehingga lebih memilih menggunakan bahasa nasional yang mudah saat berkomunikasi, dan faktor yang terakhir yaitu lebih suka menggunakan bahasa asing agar dianggap lebih kekinian. Tanda-tanda bahasa daerah makin ditinggalkan tampak jelas dari perilaku warga sehari-hari yang tinggal di daerah tertentu. Jika orang tua sudah tidak lagi mengajarkan mereka berbicara dengan bahasa daerah, itu tandanya bahasa daerah mulai ditinggalkan.

Bahasa daerah yang berada di Indonesia akan semakin terkikis apabila semua orang Indonesia memiliki konsep pemikiran yang sama. Hal tersebut juga akan memperparah jumlah tingkat kepunahan bahasa daerah. Padahal setiap bahasa daerah sebenarnya menyiratkan budi pekerti luhur jika diperdalam pemaknaannya. Mulai dari norma-norma susila, tata krama, menghargai yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua, dan masih banyak yang lainnya. Padahal, ada beberapa bahasa daerah yang dapat dikatakan unik karena memiliki huruf tersendiri.

Ironisnya, kini pengguna bahasa daerah semakin bertambahnya zaman justru semakin merosot. Hal itu juga dapat menurunkan kualitas budi pekerti para pemuda Indonesia. Padahal, budi pekerti luhur tersebut juga dapat mencerminkan identitas kita, adat budaya bangsa kita sebagai bangsa Timur. Memang baik apabila kita mempelajari bahasa-bahasa asing sebagai bentuk aksi kita mengikuti perkembangan zaman yang sudah semakin modern ini. Akan tetapi, terlalu fanatik mempelajari bahasa asing hingga melupakan bahasa daerah yang sudah dapat dikatakan mendarah daging bukanlah solusi yang tepat untuk menyikapi era modernisasi.

Baca Juga :  Kita memang sudah merdeka, Tapi apakah kita sudah tidak lagi dijajah ?

Era modernisasi seharusnya bisa membuat pemuda-pemuda mempunyai pemikiran yang maju dan rasional. Mengingat para pemuda adalah generasi emas penerus negeri ini. Pejuang negeri ini. Bukan pejuang untuk memperjuangkan negeri ini dari penjajah, melainkan untuk memperjuangkan apa yang telah diperjuangkan para pejuang yang telah gugur mendahului kita. Banyak cara yang dapat dilakukan, mulai dari menggunakan bahasa daerah untuk sarana promosi wisata, membuat produk-produk lokal dengan menggunakan bahasa daerah sebagai simbolnya (misalnya: kaos bahasa osing, kaos berpantun bahasa Minang, tas dengan tulisan aksara Jawa, dan lain-lain), mengimplementasikan bahasa daerah ke dalam kurikulum pendidikan nasional, dan masih banyak yang lainnya. Kita harus memegang teguh prinsip “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Pelajari Bahasa Asing”. Jangan sampai kita semua menjadi orang Indonesia yang lupa akan sejarah dan budaya, karena hal itu merupakan nyawa nusantara kita. “Kita mungkin mendapat mimpi buruk saat ini karena kita malu berbahasa daerah, tapi jangan berikan mimpi buruk yang sama kepada anak-anak kita kelak ketika bahasa daerah kita kian lama kian musnah”.

  • Penulis : Nur Kholis Ida Purwati
  • Editor : Affan Bakhrudin

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR