BerandaKOLOMWARKOP KPBNU Butuh Mondok, HTI Butuh Liburan

PBNU Butuh Mondok, HTI Butuh Liburan

540
0
BAGIKAN

Sebelum guru saya minggat, ia mengatakan sesuatu kepada saya. Menurut dia, dukungan beberapa organisasi Islam pada perpu ormas yang berujung pada pembubaran HTI adalah sesuatu yang lumrah. ”Mereka bisa ikhlas HTI dibubarkan itu karena para punggawa organisasi pendukung perpu ormas itu kurang ’mondok’ sewaktu muda dulu,” ujarnya.

Sebagai murid yang baik, saya berkewajiban mencari apa yang dimaksudkan guru saya, dan saya menafsirkan sendiri semampu saya. Usai ia lenyap dari pandangan sembari meninggalkan pertanyaan di kepala, kata ”mondok” itu saya artikan dengan bodoh sebagai nyantri; belajar agama di pondok pesantren. Sempat terpikirkan untuk melihat KBBI, yang kalau tidak salah ”mondok” memiliki arti: pendek gemuk, tapi saya urungkan niat saya karena guru saya itu termasuk jenis demit yang tidak terikat pada EYD. Sejurus kemudian, saya menganulir kata ”pesantren; asrama” karena ”mondok” juga bisa berarti ngandang di penjara karena pencurian, pemerkosaan, pembunuhan atau kasus korupsi.

Sadar diri lantaran cukup lama bergelut dan numpang makan di dunia media, membuat saya takut terjebak pada kebiasaan lama untuk suudzon. Maka agar saya punya sedikit pengalaman husnudzon kepada orang lain, terutama para pendukung perpu ormas, saya putuskan mengartikan kata ”mondok” sebagai nyantri atau belajar agama di pondok pesantren. Tentu saja kata ”mondok” di sini lebih dari sekedar mitos mengukur militansi dan penghayatan hidup di pondok pesantren dengan parameter sakit kulit. Juga tentang hidup komunal dengan berjenis-jenis orang dalam satu tempat di waktu yang lama.

Hidup komunal bukan sekedar kebersamaan, tapi lebih ke proses individu mencapai kesadaran tertinggi dalam memaknai ”pola hidup komunal” sebagai sebuah gesekan, baik di sekala individu dan kelompok. Setelah memahami hidup adalah gesekan antara dua dua kutub, tinggal seseorang atau kelompok itu menemukan komponen positif-negatif untuk diolah menjadi cahaya. Muara dari tiap gesekan yang terjadi bisa sangat berbeda hasilnya dan bahkan terlalu ekstrem. Karena gesekan hampir selalu berpotensi melahirkan ekstase individu atau kelompok.

Gesekan sebagai akibat dari kehidupan yang komunal juga merupakan jalan untuk menemukan keagungan Allah sebagai Dzat Maha Tunggal. Beraneka ragam ciptaan-Nya, termasuk manusia, adalah bukti bila Dia benar-benar serius mengukuhkan diri sebagai yang Maha Tunggal. Sehingga Dia pun menciptakan sesuatu yang juga tunggal, tak pernah sama. Kodrat perbedaan inilah yang kemudian melahirkan gesekan-gesekan, terlebih ketika perbedaan itu hidup bersama di suatu tempat. Kita tentu boleh menamai tempat itu pondok, kampung, atau boleh juga Indonesia.

Kalau dilihat dari akarnya, gesekan terjadi karena perbedaan tafsir kitab yang berujung pada lahirnya madzhab dan aliran-aliran baru, dimana hal ini sangat wajar terjadi. Software dalam diri manusia yang juga berbeda-beda melahirkan tafsir yang berbeda pula. Ditambah lagi dengan bahasa sastra tingkat tinggi, latar psikologis, pengalaman hidup dan kondisi sosiologis masyarakat tempat tumbuh kembang aliran dan madzhab membuat perbedaan tafsir kian tajam. Apakah lantas perbedaan yang ada ini kemudian harus disikapi dengan saling serang dan merendahkan satu sama lain dan bahkan saling menjatuhkan?

Baca Juga :  Anak Band Ngehitz VS Mesin Sampink

Perpecahan di dunia Islam terjadi karena keangkuhan ego dan salah cara pandang kita ”menikahi” agama. Kalau Islam diibaratkan rokok, maka yang kita nikahi bukan rokok itu sendiri tapi justru bungkus rokok, tembakau, filter, dan kertas pembungkus tembakau. Terlebih lagi ketika jalan buntu perbedaan disikapi dengan merajuk dan merapat ke pemerintah yang kebetulan bersebrangan dengan salah satu ormas agar melahirkan senjata pemusnah ormas.

Mungkin alasan guru saya menyebut ormas Islam pendukung perpu ormas disebut sebagai ”kurang mondok” lantaran mereka gagal mengambil hikmah dari budaya komunal di pesantren untuk diaplikasikan ke wilayah yang lebih luas. Dukungan atas perpu ormas dinilai guru saya sebagai hilangnya kesadaran bila hidup adalah serangkaian gesekan dan lupa bila perbedaan adalah anugrah yang luar biasa dari Allah. Dukungan ini (mungkin) juga berarti PBNU telah kehilangan ”pawang” yang mampu mengatasi ketajaman perbedaan dan kerumitan hidup berbangsa-bernegara.

Tanpa pawang, kecemasan akan dampak gesekan-gesekan ideologi tersebut membuat mereka butuh merapat ke pemerintah yang kebetulan kebakaran jenggot lantaran dihajar di medsos. Bagi pemerintah yang mungkin sangat jauh dari budaya mondok, tentu tak akan ambil pusing soal memaknai pergesekan. Mungkin mereka juga tak punya banyak waktu untuk lebih jauh menemukan perbedaan adalah cara Allah menunjukkan dirinya Maha Tunggal. Sehingga satu-satunya jalan yang nampak masuk akal dalam menertibkan ”anak nakal” adalah perpu ormas.

Hari ini pergesekan dimaknai sebagai sesuatu yang merugikan, merusak dan merongrong kewibawaan pemerintah. Pergesekan juga dimaknai sebagai penghalang eksistensi keyakinan dan keutuhan beberapa ormas Islam. Terlebih ketika presiden ajaib kita adalah penganut madzhab salon yang tak suka nama baiknya diusik oleh kelompok yang dianggap anti NKRI. Dan kebetulan yang lain adalah Pak Wiranto, salah satu garda depan lahirnya perpu ormas, besar dengan doktrin NKRI harga mati. Soal anggota kabinet ajaib lainnya benar-benar paham apa itu NKRI atau tidak itu lain soal. Yang penting, ada yang dianggap bikin “rusuh” langsung ganyang.

Peristiwa ”mondok” harus dimaknai proses menemukan batasan-batasan. Ketika tak seorang pun dapat menjadi hakim atas kepercayaan yang kita pilih, maka tanggungjawab sosial dari pilihan itu adalah menghargai pilihan orang lain; kelompok lain, dan bentuk nyata dari tanggungjawab sosial itu adalah memberikan output terbaik pada orang lain. Yang terpenting, ”mondok” tidak seharusnya dianggap sebagai capaian belajar dan sebuah periodesasi waktu. Karena pada hakikatnya, manusia tak boleh berhenti mondok dan menjadikannya sebagai bagian dari kesadaran. Jadi kalau sudah lulus di pesantren, ya, sebaiknya modok di kampung bersama masyarakat; mondok di Indonesia bersama seluruh penghuni di dalamnya.

Baca Juga :  Segera mengurus E-KTP, berikut jadwal untuk wilayah Kabupaten Mojokerto

Selain menemukan batasan, mondok juga harus dimaknai sebagai proses menahan diri atau puasa. Karena hidup bukan sekedar melampiaskan arogansi serta mengamankan eksistensi ideologi, golongan dan lumbung untuk menumpang makan. Dukungan terhadap perpu ormas harus jadi evaluasi mendatang untuk menyadari betapa organisasi Islam di Indonesia masih kekanak-kanakan dan belum dewasa untuk hidup bersama. Kalau masing-masing kelompok mengaku dewasa, tentu mereka tidak perlu terbawa arus untuk cenderung mengikuti ledakan-ledakan implusif dalam diri ketika ke-aku-an ideologi terluka.

Pembubaran adalah anugrah liburan untuk HTI dari Allah

Untuk HTI yang sudah KO duluan karena dianggap tidak sejalan dengan Pancasila, silahkan saja untuk langsung mengadu dan merengek ke Gusti Allah langsung. Kalian tidak perlu berharap dan memelas kepada pemerintah yang tidak lebih besar dari cita-cita yang sedang kalian perjuangkan. Juga tidak perlu terlalu berharap dan memelas pada lembaga peradilan yang konon begitu kerdil memaknai keadilan. Bukankah tujuan mendirikan negara Islam lahir dari sebuah penilaian bila segala yang ada di Indonesia ini perlu dibongkar total dan ditata kembali?

Teman-teman HTI yang baik, mungkin anda lebih tahu dari saya bila menginstal software canggih tidak bisa dilakukan di komputer jadul. Teman-teman HTI hanya punya dua pilihan: mengupgrade komputer atau mengganti dengan komputer baru. Tapi setahu saya, upgrade tidak mungkin dilakukan bila hardware komputer sudah keropos, karatan dan sudah berkali-kali njebluk dan kebakaran.

Di tengah kondisi K.O seperti sekarang ini, sebenarnya saya juga tidak tega untuk menanyakan kepada HTI: mengapa pemahaman mendalam pada konsep khilafah tidak lantas membuat tokoh-tokoh HTI bisa jadi pawang nasional? Mengapa punggawa HTI belum mampu menjadi tokoh-tokoh yang tahu kondisi psikologis dan sosiologis masyarakat sehingga mampu melahirkan akurasi-akurasi kerja dalam rangka menginstal softwarekhilafah di Indonesia. Saya juga tidak tega untuk menanyakan: mengapa tidak memprioritaskan perjuangan pendidikan ketimbang konfrontasi media sosial yang justru jauh dari nilai-nilai khilafah? Selain tidak tega bertanya, saya juga agak sungkan dengan teman-teman HTI, karena konon mereka galak.

Meski saya masih jauh dari kaffah dalam beragama, saya sadar bila khilafah adalah tahap akhir dari pencapaian manusia. Setelah Allah menciptakan tumbuhan, Dia menciptakan hewan yang memiliki darah dan daging. Baru kemudian Dia menciptakan manusia: ”hewan” yang berakal. Baru kemudian akal dan hati pada manusia itu perlu didayagunakan untuk mencapai tahap abdilah dan tahap selanjutnya adalah khilafah. Lha wong sekarang ini, manusia Indonesia masih banyak yang lebih rendah dari binatang: ulaika kal an’am balhum adhol.

Jadi, kira-kira apa yang mesti sampean lakukan sekarang? Mau memaksakan menginstal dengan konsekwensi njebluk nasional atau bagaimana. Terserah anda semua, karena anda lebih tahu konsekwensi dari perjuangan menegakkan khilafah di negara yang dihuni oleh 90 persen dargombes.

Mungkin saya akan nampak sangat menjengkelkan bila saya hanya menyarankan anda bersabar dengan situasi saat ini. Karena mau bagaimana lagi? Selama sampean masih mengurus dan butuh KTP, anda terikat pada hukum-hukum formal dan undang-undang yang kesalehan pasal-pasalnya tidak benar-benar dihitung. Meski terkadang saya kerap ingin bertanya secara langsung pada sampean mengenai khilafah yang anda maksudkan. Apakah khilafah yang sering anda kemukakan selama ini tidak lebih dari jargon, atau sekedar ideologi, atau justru sebagai kesadaran yang kontinyu dan dapat tumbuh di berbagai ladang, termasuk Indonesia. Tapi mungkin orang macam saya ini tidak masuk hitungan untuk diajak ngopi dan njagong soal khilafah.

Teman-teman HTI yang lembut hatinya, pembubaran organisasi anda bukanlah kiamat yang mengerikan. Karena organisasi hanya wadah, sedangkan setahu saya khilafah itu letaknya di dalam diri setiap orang. Pemerintah dan ormas yang geregeten dengan anda, tidak akan dapat masuk ke ruangan itu. Jadi berdamailah dan cari kegiatan baru untuk meredam rasa jengkel di dalam diri anda.

Baca Juga :  Pembangunan Tol Kertosono - Mojokerto Masih 70%

Mungkin pembubaran organisasi anda semua adalah momentum liburan yang diberikan Allah agar anda tidak terlalu spaneng. Mungkin juga Gusti Allah ingin anda semua pulang ke bilik masing-masing dan merenungi apa yang terjadi. Syukur-syukur kalau momentum liburan ini anda manfaatkan untuk evaluasi konsepsi khilafah. Karena untuk merubah situasi seperti yang anda inginkan butuh pawang yang tangguh. Dan pawang itu tidak mungkin lahir tanpa pemahaman mendalam akan sesuatu.

Juga tidak ada salahnya momen ini anda pakai untuk kembali menata niat sembari kembali ”mondok” agar anda lebih rileks memahami perbedaan yang membuat saudara anda yang mendukung perpu ormas kebakaran jenggot dengan anda. Sekali-sekali, ya, mbok yang santai gitu. Jagongan sambil ngopi-ngudut. Eh, saya lupa, sampean ndak suka udut. Sepurane, ya.

Citra D. Vresti Trisna

Jakarta, Sabtu Pahing, Agustus 2017

Comments

comments