BerandaKOLOMWARKOP KPilih Teori atau Dupa-Kemenyan?

Pilih Teori atau Dupa-Kemenyan?

1168
0
BAGIKAN
ilustrasi. sumber : id.wikihow.com

Pada suatu malam di tahun 2014 silam, di sebuah warung kopi dekat Situs Trowulan, saya mencuri dengar beberapa orang yang membicarakan kejayaan Nusantara. Semuanya tak luput dibicarakan: berupa-rupa artefak, cerita para sesepuh, hipotesis dan analisa. Obrolan malam itu jadi sepekat endapan kopi mereka yang mulai mendingin. Terlebih ketika obrolan meninggi dan menyentuh bagian paling sensitif: konspirasi global.

Tatapan mata mereka tajam. Mungkin di sana menyala api optimisme, kekecewaan dan rasa ”tak sabar” pada kompleksitas masalah berbangsa-bernegara dan perasaan geram pada segala sesuatu yang mambu modern. Mereka yakin bila situasi sudah sedemikian genting. Rasa ”marah” yang mereka simpan telah mengendap, membesar seperti jerawat di kening yang hendak pecah. Kalah ”judi dadu nasional” dengan londo putih, dan londo ireng, yang ditandai dengan tergadainya kedaulatan negara, melenyapkan rasa kantuk mereka malam itu. Terlebih lagi saat obrolan mengarah pada kerusakan nilai-nilai luhur di masyarakat oleh kekuatan jahat yang ”tersembunyi”. Mereka ingin dunia—khususnya Indonesia—kembali ”perawan” lewat pintu-pintu yang mereka sebut ”Nusantara”.

Salah satu orang yang terlibat pembicaraan itu adalah kawan mbambung saya. Meski dia juga anak kuliah, tapi identitasnya tidak jelas. Sekali waktu saya menemukan dia ngomong soal teori media, tapi di waktu lainnya dia merem-melek bakar kemenyan dan bersungut-sungut menggugat sesuatu yang kekinian. Meski demikian, aktivitasnya lebih banyak diisi dengan kelompok-kelompok pecinta Nusantara. Kalau salah seorang memaparkan capaian Majapahit di masa silam, kawan saya ini selalu menggeleng-gelengkan kepalanya seperti mengutuki situasi terkini.

Tapi inilah menariknya hidup: selalu menyatukan dua hal yang bertentangan agar terjadi proses dialektika dan hidup terus berjalan. Kawan mbambung saya, yang juga jadi bagian kelompok pecinta Nusantara ini justru menjalin hubungan dengan akademisi yang percaya bila hidup harus sejalan teori, harus ngilmiah. Bagi pacar kawan saya, menyelesaikan persoalan dengan ”masa silam” itu mustahil dan buang-buang waktu. Karena, ia yakin bila hanya universitas dan akademisi saja yang punya tugas mulia mengurai benang kusut persoalan di Indonesia. Sehingga, ketika ia mendapati kawan saya terlalu sibuk dengan ”masa silam”, ia akan ngamuk-ngamuk seperti kesurupan. Karena ia merasa, persoalan kebangsaan tidak mungkin selesai dengan ngobrol ngalor-ngidul sambil bakar kemenyan. Dan takdir berkata lain: keduanya memutuskan berpisah.
*

Baca Juga :  Dukun Tiban Nasional

Setiap orang bebas melakukan interpretasi atau pemaknaan atas apa pun—termasuk masa silam—untuk berbagai keperluan. Termasuk memaknai temuan-temuan masa silam sebagai sebuah keping-keping puzzle yang bila disatukan menjadi obat mujarab mengurai benang kusut berbagai masalah di Indonesia. Karena yang terpenting bukanlah hasil dan arah pemaknaan itu—yang kemudian mengkristal menjadi keyakinan—melainkan adalah bagaimana mereka bergerak dan merealisasikan apa hasil dari pemaknaan itu menjadi hal-hal kongkrit dan bercita-cita baik. Dan saya pikir hidup teramat luas bila sebuah masalah diselesaikan dengan satu metode saja. Kalau hari ini anda bercita-cita baik dan peduli pada Indonesia, mau pakai metode apapun, ya, go ahead.

Saya tidak mau ambil pusing dengan kaum terpelajar sontoloyo yang menghardik sekumpulan orang yang percaya pada ”kejayaan nusantara” sebagai sesuatu yang dekaden, irrasional dan tidak jelas. Terlebih pada olok-olok mereka yang menganggap masalah nasional tidak mungkin diselesaikan dengan kemenyan. Terkadang saya juga kurang suka bila kawan saya dihina pacarnya mati-matian karena aktif dalam kelompok pecinta Nusantara. Bila pada akhirnya gelar terpelajar menjadikan seseorang intoleran dan pemonopoli kebenaran, lebih baik ia menjadi jambret.

Sekali waktu saya juga kerap dibuat gregeten ketika Goenawan Mohamad menyebut kelompok-kelompok yang percaya pada konspirasi global sebagai penderita paranoia laten juga tidak membuat saya terpengaruh. ”Sak karepmulah Mas Gun”. Karena, tuduhan Mas Gun ini juga ditembakkan kepada kelompok-kelompok ini. Padahal, baik Mas Gun atau pun intelektual-intelektual pemonopoli kebenaran memiliki ambil bagian atas terciptanya sekumpulan orang yang dianggap dekaden ini.

Mungkin Mas Gun sedang kalap. Mungkin juga ia lupa seperti apa wajah media hari ini yang jadi makelar isu dan pihak (yang paling bertanggungjawab) atas sosialisasi rasa takut. Bukankah ide-ide untuk kembali pada ”masa silam”—selain lahir lantaran cita-cita luhur dan kepedulian—lahir dari rasa takut yang rutin ditiupkan media. Kalau buat mas-mbak akademisi, no comment lah. Hanya saja saran saya pada anda, mulailah menghitung berapa banyak hasil analisa sosial, pemetaan dan riset anda mengenai kehidupan berbangsa-bernegara juga ternyata adem ayem saja dan tidak membawa perubahan yang cukup signifikan. Akademisi yang dipercaya pemikirannya untuk menyelesaikan persoalan justru makin tersesat dan kian tak mengerti apa yang sebenarnya mereka omongkan dan lakukan.

Baca Juga :  PERAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

Bukankah setelah teori-teori itu nihil memahami wajah masyarakat dan berbagai persoalan yang melingkupinya, kaum anda sendiri mulai rajin menyuarakan bila sekolah formal hari ini tak ada bedanya dengan sekolah copet di Terminal Joyoboyo. Dunia pendidikan yang sebelumnya kalian agungkan, mendadak kalian sebut gagal dan hanya memproduksi maling pilih tanding. Kalau produk pemikiran intelektual cap taek juga belum teruji keampuhannya, jangan semena-mena menghina dupa, kembang dan batu-batu candi. Ya, buruk muka, cermin dibelah. Buruk muka waktu selfi, pakasi saja 360.

Bukankah ide-ide taingasu soal HAM yang telah anda impor juga melarang anda merendahkan pecinta dupa dan sajen sebagai insan klenik yang gagal move on. Apa ndak modyar anda nanti kalau sudah dituntut oleh pasal-pasal hukum yang anda bikin sendiri seperti ”perbuatan tidak menyenangkan”. Memangnya kesombonganmu itu menyenangkan? Memangnya kelakuan penegak hukum, pemerintah, media, akademisi, dan kita semua ini menyenangkan?

Kawin nasional dupa dan sekolah
Setiap orang memiliki kebebasan dalam merumuskan metode-metode hasil analisa atau interpretasi sebagai jalan untuk selamat dari kenyataan bobroknya negara. Mau menyelesaikan masalah dengan ratusan kontainer berisi teori impor atau mungkin dengan dupa, kemenyan dan demit masa silam, asal niatnya baik, tidak masalah. Boleh juga sesekali berjalan beriringan, merumuskan masa depan dengan saling mengisi kekurangan masing-masing kutub dengan mesra. Atau mungkin sesekali main gaple bareng dan berpacar-pacaran. Karena tidak ada salahnya juga melakukan kawin nasional dupa dan sekolah. Semua itu sepertinya penting dilakukan guna merumuskan masa depan dan pelan-pelan belajar legowo dengan hasil pemilu yang hanya melahirkan bedes-bedes durjana penjual kedaulatan.

Sampai detik ini saya belum bisa membuktikan mana yang lebih cespleng menyelesaikan masalah: teori, dupa, atau omongkosong media massa? Saya pikir, tidak perlu urusan yang besar dululah. Cukup yang sepele tapi kongkrit saja. Tapi, berdasarkan pengalaman empiris saya, dupa-kemenyan lebih kongkrit dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kecil saya dan masyarakat. Seperti untuk ngeramal togel, lintrik, anti maling, dsb. Kalau teori, sejauh ini hanya untuk kebanggaan nyepik cewek-cewek cupu kampus. Kalau untuk menyelesaikan dunia kerja, universitas masih kalah jauh dengan kedegilan outsourching, ijazah aspal, koneksi, dll.

Baca Juga :  Tol Mojokerto - Jombang Seksi 3 Dibuka Gratis Untuk Jalur Mudik

Marilah saling melengkapi. Syukur kalau teman saya mau balik dengan pacarnya. Kalau tidak, ya, ndak jadi soal. Soal Mas Gun yang lamis, sudahlah. Kalau dilihat dari caranya ngomong, sepertinya beliau butuh ngopi dan sejurus kemudian ke kamar mandi.

Jkt48, 20 September 2016
Penulis : Citra D. Vresti Trisna

Comments

comments