Lain-lain

Rawon, Tragedi, dan Anggota KPPS yang ”Dipaksa Pulang”

Saya mulai tulisan ini dengan ungkapan belasungkawa yang mendalam pada satu keluarga di Mojokerto yang keracunan saat makan rawon di momentum lebaran tahun 2019 ini. Dan satu orang dinyatakan meninggal.

Setiap mendengar berita kematian, pikiran saya selalu dikembalikan pada ingatan tentang dua hal. Ingatan yang paling kental adalah tentang salah satu rumus yang ada di Surah Al-Baqarah: Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un; kesadaran untuk tahu tempat berpulang ke asal-usul yang paling sejati. Sedangkan yang agak samar-samar di ingatan adalah kata-kata—yang konon pernah diucapkan Joseph Stalin—salah satu pimpinan komunis Soviet: ”kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.”

Mungkin apa yang Stalin sebut sebagai”tragedi” adalah rasa sesak di hati satu keluarga yang merasa ditinggal. Terlebih kepedihnya kehilangan karena keracunan itu dirasakan keluarga sambil terbaring lemah di rumah sakit. Inikah tragedi? Atau apakah tragedi butuh kepedihan yang lebih menggigit agar tidak batal disebut ”tragedi”? Juga pertanyaan atas kemungkinan tragedi menggerakkan (seseorang, satu keluarga, masyarakat dan negara) untuk melakukan sesuatu.

Tapi sayangnya, tidak ada indikator yang jelas untuk menilai kadar kesedihan tertentu agar sesuatu layak disebut sebagai tragedi. Sesuatu yang (mungkin) dampaknya menggerakkan sekelompok orang untuk bertanya: mengapa bisa mati?

Mungkin derita satu keluarga yang keracunan rawon menggerakkan dokter untuk mencari jawaban: apa yang salah dengan rawon sehingga bisa membuat satu keluarga keracunan dan bahkan sampai ada yang meninggal. Tapi, mungkin tetangga di sekitar keluarga yang kehilangan itu akan berpikir: ”ah, wis sakmestine; pancen wes dalane koyo ngunu; umur’e mung semunu.”

Kesedihan mendalam—yang disebut ”tragedi”—macam apa yang bisa membuat para tetangga ikut tergerak mencari penyebab kematian dan (mungkin) marah. Tragedi macam apa yang bisa menggerakkan warga satu Kabupaten Mojokerto bergolak? Atau memang sebuah tragedi perlu dibuat jadi ”kekinian” agar luka kehilangan itu jadi milik semua warga Mojokerto dan memompa rasa ingin tahu mereka? Ketidakmampuan saya menjawab membuat saya membenarkan Stalin: tragedi tidak bisa berdiri sendiri. Perlu ada akumulasi tragedi, yang kemudian menjadikannya ”statistik” lalu sejurus kemudian masyarakat bergerak dan melakukan sesuatu.

Sejak dulu, saya punya kecurigaan tersendiri pada apa yang diucapkan Stalin. Sekilas kata-kata ini mungkin nampak masuk akal. Siapa yang tidak tergerak untuk mengikuti berita jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada November 2018 silam? Manusia datar macam apa yang tidak mengikuti perkembangan terbaru di medsos dan televisi? Pakar transportasi macam apa yang sampai hati melanjutkan hidup tanpa melahirkan analisa-analisa mendalam tentang konsep transportasi ideal yang aman bagi masyarakat? Apakah para punggawa KNKT tega untuk berdiam tanpa melakukan investigasi? Apa pemerintah bisa pura-pura tuli untuk tidak berbelasungkawa dan menginstruksikan pembenahan mendasar perusahaan angkutan penumpang?

Dampak dari ”statistik” ini pula yang membuat islamophobia mewabah di Eropa dan Amerika. Ada yang bergerak usai teror terjadi. ”Statistik” angka-angka korban teror mengubah toleransi menjadi ”curiga”; menjadi ”phobia”. Semua ”bergerak” dan berubah karena ”tragedi” tidak hanya menjadi milik satu orang, satu keluarga. ”Tragedi” yang telah menjadi ”statistik” pernah membuat semua orang merenung, berpikir, bersedih, merasa perlu ambil bagian, membantu, mendoakan dan berharap kebaikan di kemudian hari.

Rawon (Beracun) Demokrasi

Entah mengapa ada hal-hal yang membuat saya tetap tidak sepenuhnya membenarkan apa yang disampaikan Stalin. Karena ”statistik” hanya sekedar angka-angka yang dihitung dengan cermat. ”Statistik” tidak melahirkan gerakan apapun.

Ada kasus-kasus tertentu di mana sekelompok orang tidak peduli pada ”statistik”. Kita bisa melihat, berapa banyak anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang mati setelah bertugas. Lihat saja, warga Mojokerto tetap bisa menjalankan aktivitas mereka seperti biasa dengan perasaan datar. Dan tragedi, tetaplah jadi tragedi bagi keluarga anggota KPPS yang ditinggalkan.

Tidak, saya tidak hanya menyalahkan warga Mojokerto saja. Di daerah-daerah lain pun juga adem ayem saja. Tidak banyak orang bertanya. Orang-orang yang mungkin tahu apa yang terjadi, bersembunyi di biliknya dan membicarakan kematian anggota KPPS di seluruh Indonesia sambil bisik-bisik dan mungkin juga diam-diam bersyukur bukan dia yang jadi korban.

Sekali lagi keterbatasan kecerdasan saya hanya melahirkan analisa dangkal atas kematian anggota KPPS yang kini sudah mencapai 600 orang. Saya menduga ada semacam virus yang melumpuhkan akal manusia Indonesia, sehingga otak mereka perlu diopname sampai waktu yang tidak ditentukan. Nurani manusia Indonesia perlu dikulkas agar tetap dingin dan tidak terdorong nafsu berontak.

Terkait penjelasan tentang asal-usul virus yang melumpuhkan akal manusia Indonesia, sementara ini saya berpikir bila virus berasal dari rawon demokrasi. Mengapa rawon basi bisa jadi penyebab kelumpuhan total akal dan nurani manusia Indonesia? Ya inilah jawaban terbaik yang bisa saya sampaikan kepada anda. Para pembaca yang budiman diharapkan memaklumi kondisi saya saat ini. Karena saya pun juga menuliskan masalah ini dalam kondisi kesadaran yang tinggal sepuluh persen. Ketidakberdayaan inilah yang membuat saya tak terlalu menyalahkan manusia Indonesia.

Meski saya tidak ikut makan rawon di pesta demokrasi kemarin, tapi bebauan rawon yang berhembus dari medsos dan media membuat saya nggeliyeng. Bau bumbu basi demokrasi mengkonsletkan akal saya. Alhasil saya menulis yang model begini. Sekali lagi maafkan saya.

Mengapa saya tidak sepenuhnya berani menyalahkan masrakat yang dianggap bodoh; dikira bodoh untuk bisa menilai apa yang terajadi? Orang yang dianggap pintar; dianggap ahli demokrasi, juga nampak tidak berminat membereskan kematian kolektif anggota KPPS. Partai yang pinjam nama demokrasi juga nampaknya tidak punya urusan dengan tangis haru keluarga yang ditinggal mati. Lalu soal pemerintah dan KPU? Sekali lagi maafkan saya, karena pening kepala saya makin hebat membicarakan keduanya.

Di tengah matinya akal akibat rawon durjana ini, saya memberikan apresiasi pada pihak-pihak yang masih sadar dan berusaha mengungkap keracunan massal yang menelan korban jiwa itu. Meski pada akhirnya si dokter itu diperkarakan dan harus dipaksa makan rawon agar tidak banyak tingkah.

Kematian yang telah menjadi statistik tidak selalu membuat seseorang atau sekelompok orang bergerak dan melawan. Masyarakat terbukti tidak tertarik untuk menanyakan mengapa korban meninggal bisa sebanyak sekarang. Masyarakat tidak perlu repot-repot bertanya: dibunuh atau memang menganggap umure mung semunu. Untuk saya, kalau memang harus mengucapkan Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un pun bibir saya kelu. Karena sekelumit kesadaran saya masih kabur untuk membedakan antara ”kembali” pada Allah dan ”dipaksa kembali”. Ada beda yang mendasar pada dua hal itu.

Dan pada akhirnya, di sisa-sisa kesadaran ini, saya katakan, apa yang terjadi di Indonesia sudah lebih dari tragedi. Namun, kali ini yang muncul di kepala saya justru tertuju pada salah satu puisi di tahun 1759, ”membunuh satu orang menjadikan kita penjahat, membunuh jutaan orang menjadikan kita pahlawan… jumlah menyucikan kejahatan.”

Citra D. Vresti Trisna

Comments

comments