BerandaKOLOMWARKOP KSebaiknya Koko dan Mas Habib Adu Tinju di Tempat Sepi

Sebaiknya Koko dan Mas Habib Adu Tinju di Tempat Sepi

628
0
BAGIKAN
Ilustrasi. Sumber : republika.co.id / Rayhan

Kabar Mojokerto – Mata rakyat Indonesia sedang mbliyur; berkunang-kunang. Mereka melangkah tertatih-tatih mencari jalan yang hampir tiada. Kiri-kanan mereka adalah jurang yang siap menjerumuskan rakyat Indonesia ke dalam neraka keberpihakan. Rakyat (seolah-olah) dipaksa memilih jadi pendukung Mas Habib atau Koh Ahok.

Sebelum mbliyur seperti sekarang, rakyat Indonesia pernah mengalami keadaan serupa oleh upaya pemecahbelah persatuan dan kesatuan di pilpres 2014. Kalau dulu Jokowi atau Prabowo, sekarang Mas Habib atau Koh Ahok.  Meski banyak pihak menasihati, ”Indonesia bukan Ahok-Habib”, tapi sayangnya tak banyak yang peduli. Rakyat Indonesia terlanjur ”terpecah belah” dengan sempurna.

Tidak peduli palu pengadilan sudah diketok, pokoknya Koh Ahok harus dibebaskan karena dianggap tidak bersalah. Tidak peduli apapun situasinya, Mas Habib harus benar; harus didukung sepenuh hati.

Sakit mata rakyat Indonesia sudah stadium empat. Kondisi ini memang jauh lebih parah dibanding tahun 2014 silam. Mungkin karena strategi memecah-belah rakyat sudah lebih canggih karena belajar dari sebelumnya.

Kalau dulu, perpecahan hanya terjadi di medsos dan tidak saling sapa antara pendukung Prabowo dan Jokowi, sekarang perpecahan yang terjadi sudah di skala massal dan siap meledak. Pernyataan sikap tanpa aksi massa ibarat sayur tanpa garam.

Selain kebencian, beragam analisa tentang perpecahan telah dilontarkan; diberikan data statistik agar meyakinkan. Tidak penting apakah berbagai analisa itu bisa merdeka dari subjektivitas, atau tersebut justru memperpanas situasi, pokoknya disebar saja dulu. Soal berakhir tawur atau tidak itu belakangan. Kalau dulu momok menakutkan pemicu perang adalah televisi, sekarang momok menakutkan itu ada di ponsel setiap orang.

Mungkin hari ini dendam dan kebencian bukan lagi milik Ahok dan Mas Habib. Dendam dan kebencian itu telah jadi milik bersama. Kalau sudah seperti ini, bisakah seseorang hanya jadi penonton yang baik; penonton yang bijak dalam mengkalkulasi baik-buruk; benar-salah, di tiap episode drama Mas Habib dan Koh Ahok? Bisakah seseorang menilai seadil mungkin jika bahan penilaian mereka didapatkan dari media-media yang subhat dan tendensius? Penonton yang sakit mata ini tak punya bahan menilai baik buruk. Mereka seolah-olah diciptakan untuk meng-kilik share. Soal apa yang mereka share adalah sumber primer atau tipu-tipu, tidak masalah. Kalau pun sumber primer itu ada, tentu ada bentang jarak membuatnya jadi bias.

Baca Juga :  Kalau Saya Dukung Sekolah Delapan Jam, Kamu Gak Terima?

Benih perpecahan pada konflik Mas Habib dan Koh Ahok memang tumbuh di ladang yang subur. Benih itu tumbuh di kepala dan hati manusia Indonesia yang sejak lahir dikaruniai bakat sebagai tukang paido yang sukses. Barang sepele pun bisa jadi besar kalau manusia Indonesia sedang kumat nyinyirnya. Cepat atau lambat bara api perpecahan juga ditentukan seberapa besar cinta manusia Indonesia pada sesuatu yang dianggap penting. Kita tentu ingat, berapa nyawa melayang hanya karena bola? Bonek adalah realitas cinta yang menyamar dalam wajah ”kekerasan”. Kalau ada sekumpulan bonek ngamuk, tentu saja itu bukan sekumpulan orang mendemonstrasikan kebencian. Mereka hanya pendukung klub sepak bola yang kehilangan bahasa untuk menyatakan cinta.

Tentu saja pendukung Mas Habib dan Koh Ahok adalah bonek dalam bentuk yang lain. Kedua kubu tersebut sama-sama sedang menyatakan cinta, baik pada Mas Habib dan Koh Ahok. Tiada yang lebih menggetarkan dari bonek yang jatuh cinta. Karena cinta mereka tak bisa diukur dari materi; dari kaya-miskin. Kalau Persebaya sedang berlaga di luar kota, tak punya uang pun, mereka nekat berangkat mendukung apapun caranya. Kalau ada aksi menyalakan lilin, anak sakit pun tidak peduli. Pokoknya berangkat dan berjuang. Kalau ada aksi ”bela islam”, tidak peduli sedang diancam penagih hutang atau tidak, pokoknya berangkat saja dulu.

Kenduri Kebahagiaan

Kalau suatu ketika ada sekelompok orang turun ke jalan dan menuntut Jokowi tumbang, tentu saja ini tidak buruk. Ahok juga boleh saja ditendang pantatnya karena lambe turahnya. Islam boleh saja dibela dengan berapi-api, tapi ketika ujung perjuangan bukan seperti yang ada di kepala rakyat (yang percaya), bisakah kita sama-sama mengambil pelajaran untuk perlahan mengurangi kebiasaan ”mencuci baju dengan air kencing?”

Baca Juga :  Majma’ al Bahroin dan Takdir ”Kebablasan” Bangsa Indonesia

Setelah sibuk mencari dan mengutuk kesalahan orang lain, bisakah mereka meliburkan diri sehari saja untuk berdua-duaan dengan cermin. Melihat betapa gagahnya tubuh sendiri tapi keropos di dalam? Bisakah kita menertawai cara klasik manusia menutupi kesalahan dengan berteriak paling keras pada kesalahan orang lain?

Kalau benar hidup itu harus seimbang, tentu tidak ada salahnya membuat simulasi dan membayangkan seandainya kita yang disweeping orang guna mencari-cari kesalahan kita; dicari-cari bau busuk yang setengah mati kita semprot parfum.

Bisakah kita berhenti melabel orang lain dengan tuduhan munafik sebelum kita bisa benar-benar mampu menolong mereka secara moral, secara ekonomi? Betapa sulitnya untuk meyakini bila perbedaan bukan berarti musuh; yang berbeda dengan kita tidak pasti jelek. Betapa irasonal narsisme kita? Betapa durjana kita mengambil hak Allah untuk menilai baik-buruk, benar-salah.

Meski islam sedang diperlakukan tidak adil oleh rezim yang tolol, bisakah kita berhenti untuk tidak ikut-ikutan tolol dan berjuang dengan kecerdikan serta kasih sayang?

Koh Ahok juga boleh saja dibebaskan jika pihak yang merasa tersakiti mau memafkan. Tentu pendukung Kokoh boleh saja memborong stok lilin sedunia untuk bertahun-tahun memprotes keputusan hakim. Meski, kadang saya ini kudu ngguyu dan ngempet ingin bertanya: benarkah Koh Ahok tidak punya satu persen pun saham atas gelombang orang yang marah dan turun ke jalan itu? Benarkah kebinekaan bisa dikurung ke dalam satu kelompok? Bukankah semestinya seseorang yang mengaku sopan dan terdidik adalah bertanya lebih dulu kepada orang yang tersakiti atas sikap Koh Ahok baru kemudian menuntut si Kokoh dibebaskan.

Sebenarnya yang bisa membuat drama hidup jadi menarik adalah setelah Koh Ahok dihukum, harusnya pendukungnya juga ikut menghukum diri sendiri karena sempat rabun sesaat. Saya rasa ada baiknya pendukung Kokoh ini membakar lilin sendiri-sendiri di kamar untuk refleksi dan mempertanyakan: benarkah selama ini sudah berlaku adil dalam berjuang? Kalau memang masih tidak adil dalam membela seseorang yang nampak teraniaya, tentu saja boleh kita menghukum diri sendiri. Soal hukuman apa yang pantas, silahkan dirembukkan apa yang pantas bagi mereka yang mati-matian membela Koh Ahok tapi mendiamkan orang miskin mencuri diganjar hukuman maksimal; membiarkan orang tidak berdaya dipernjara bertahun-tahun lalu dibebaskan karena salah tuduh. Bisakah kita menyalakan lilin atas ketololan dan sakit jiwa kolektif yang sedang kita alami?

Baca Juga :  Rabu, 6 Juli 2016, Pemerintah melalui Kementerian Agama Menetapkan Idul Fitri 1437 H.

Sungguh eman rasanya bila rakyat dilibatkan dalam perang saudara. Kalau misalkan saya punya kesempatan bicara bertiga dengan Mas Habib dan Koh Ahok, tentu saja saya akan damaikan keduanya. Kalau masih ada yang mengganjal, saya akan mempersilahkan keduanya untuk sama-sama menjadi bocah dan bertinju di kuburan atau tempat sepi. Kalau sudah sama-sama capek saling pukul, tentu boleh dilanjutkan lagi dialognya untuk mendapat kesepakatan-kesepakatan yang baik buat orang banyak tanpa harus melibatkan rakyat Indonesia atau sang penganggur sejati untuk ikut berperang demi kalian. Pemimpin sejati adalah yang kalau ada musuh ia berperang sendiri tanpa melibatkan anak buahnya. Pemimpin itu memanggil dan bercengkrama dengan anak buahnya kalau kebetulan sedang ada rizki dan kebahagiaan yang akan dibagikan. Pemimpin yang baik itu kenduri kebaikan-kebahagiaan, bukan kenduri kebencian dan provokasi.

Alangkah indahnya kenduri kebahagiaan di zaman mbliyur ini.

Sabtu Pahing, Mei 2017

  • Penulis : Citra D. Vresti Trisna
  • Editor : Affan Bahrudin

Comments

comments