Di Mojokerto, Terdapat Sebuah Sekolah Dasar Yang Hanya Tujuh Siswa

Di Mojokerto, Terdapat Sebuah Sekolah Dasar Yang Hanya Tujuh Siswa

845
0
BAGIKAN
SDN Tanjungkenongo 2 di Mojokerto. Sumber Foto: kemdikbud.go.id

Mojokerto, Kabar Mojokerto – Pernahkah anda menonton film “Laskar Pelangi” ?. Ya, film yang mengisahkan semangat juang anak-anak yang meraih mimpi di wilayah pedalaman ini, kini ada kisah nyatanya di Mojokerto. Tepatnya di SDN Tanjungkenongo 2 di Jalan Goa Gembyang, No 05, Dusun Sumberglagah, Desa Tanjungkenongo, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Ya, sekolah tersebut hanya memiliki tujuh murid. Tidak berhenti sampai di situ, sekolah tersebut hanya mempunyai tiga ruang kelas.

 
Satu ruang ditempati kelas empat dan enam, satu ruangan lagi dipakai siswa kelas tiga dan lima yang dibatasi papan tripleks. Dan kelas satu memiliki ruangan sendiri.

 
Salah seorang guru kelas, Bapak Sugeng Riadi, menuturkan bahwa, tujuh murid itu terdiri atas kelas I satu siswa, kelas III dua siswa, kelas IV dua siswa, dan kelas V serta VI masing-masing satu siswa. ”Kelas II kosong, tidak ada muridnya,” tuturnya.

 
Meski demikian, tenaga guru dalam sekolah tersebut tergolong cukup memadai. Sugeng menyatakan, ada 10 tenaga guru. Yakni, enam guru PNS termasuk kepala sekolah dan empat guru tidak tetap atau Non PNS.

 
”Meski muridnya hanya satu, kami harus tetap mengajar. Ditelateni saja dan harus sabar,” ujarnya.

 
Padahal, sesuai Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru menyebutkan bahwa guru memiliki beban kerja paling sedikit 24 jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka per minggu. Selain itu, rasio guru terhadap peserta didik untuk tingkat SD atau yang sederajat minimal 20:1 alias 1 guru harus mengajar minimal 20 murid.

 
Kepala SDN Tanjungkenongo 2 Bapak Suharno menjelaskan, awalnya, sekolah tersebut merupakan sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak dari penyandang penyakit kusta yang mendiami di sekitar wilayah Desa Sumberglagah. Namun, seiring berjalannya waktu, orang tua mereka berangsur-angsur sembuh.

Baca Juga :  Untuk Bayar Gaji ke 13 dan THR Para PNS, Pemkab Mojokerto Siapkan 84 Milyar

 
”Dalam kurun 10-15 tahun lalu, muridnya masih banyak. Tetapi, sekarang sudah banyak yang sembuh. Bahkan, sudah tidak ada orangnya,” ucapnya.

 
Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak dari penyandang kusta tersebut sudah bisa diterima di sekolah umum lain. Akibatnya, banyak siswa yang memilih masuk sekolah lain yang lebih banyak temannya.

 
Sementara itu, kemungkinan yang dari warga desa mau masuk sini sangat kecil, karena memang sekolah ini awalnya dikhususkan untuk para siswa penyandang kusta.

 
Ya, dengan kisah ini semoga Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan lebih memperhatikan sekolah-sekolah di pedalaman agar sekolah mereka tidak terancam ditutup karena kurangnya peserta didik.

  • Sumber: www.jpnn.com
  • Penulis: Andik Kurniawan Santoso
  • Editor: Affan Bakhrudin

Incoming search terms:

  • peringkat sd terbaik 2017 kota mojokerto

Comments

comments

TIDAK ADA KOMENTAR